Senin, Januari 23, 2017

Perlukah kita mencatat pengeluaran pribadi kita?

Mengelola keuangan rumah tangga, menjadi aktifitas yang unik, karena memerlukan trik serta disiplin tingkat tinggi.  Begitu juga bagi saya, mengelola keuangan rumah tangga, amanah dari sang suami, harus jeli.
Kemarin ada teman menanyakan di statusnya, “perlukah kita membuat rincian pengeluaran keuangan kita, dan melaporkannya kepada sang suami?” dan ketika melihat komentar-komentar di bawahnya, ternyata banyak jawaban. Dan sebenarnya dari banyak artikel keuangan yang pernah dibaca, sebagian besar menyarankan untuk mencatat keuangan, terutama pengeluaran sedetail mungkin.
Kalau saya sih, sejak menikah 12 tahun silam, saya rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan kami.  Mungkin sebagian dari kita heran, detail amat, Tin? Dan memang jujur saja, awalnya itu sulit buat saya, tetapi saya harus membiasakannya. Karena jika tidak, malah berantakan jadinya. Inilah pertimbangannya :
1.       Saya memegang beberapa keuangan, selain keuangan rumah tangga, juga ada kas keuangan kerjaan, uang dagangan bahkan kas keuangan komunitas.  Jika saya tidak disiplin mencatatnya satu per satu, maka yang ada saya akan kewalahan memilahnya. 
2.       Dulu, saya pernah harus mengganti sejumlah uang dari kas komunitas, karena keteledoran sebelumnya, tidak pernah mencatat pengeluaran.  Juga keteledoran menggunakan uang kas komunitas, untuk keperluan pribadi, hanya karena malas mengambil uang ke ATM.  Ah, nanti saya ganti.  Tapi yang terjadi, saya tidak langsung menggantinya.  Dan kelabakan ketika harus menghitung semuanya, kok ada selisih?
3.       Saya pernah berdagang, dan saya akui saat itu tidak mencatat dengan rapi antara keuangan hasil dagang serta keuangan pribadi.  Hasilnya bisa ditebak, saya lagi-lagi kebingungan, ketika uang modal dagang habis tak tentu rimbanya. Padahal saat itu terpakai untuk beli beras.
Selanjutnya, saya insyaf!  Saya perbaiki manajemen keuangan saya, di awal-awal menikah, 12 tahun silam.  Saya buka semua ke suami, berapa penghasilan saya, berapa juga kewajiban saya setiap bulannya.  Demikian juga yang dilakukan oleh suami.  Kami sepakat, bahwa keuangan yang diamanahkan ke saya harus saya catat bahkan hingga ke item yang terkecil.  Bagaimana caranya?
1.       Saya catat di HP atau buku saku, untuk pengeluaran sehari-hari.  Sekarang bahkan ada aplikasi di telepon pintar kita yang isinya tentang laporan keuangan yang simpel. 
2.       Kemudian saya rekap dalam sepekan, apa saja pengeluaran kemarin.  Saya catat hingga ke pembelian bumbu dapur, maupun bayar parkir lho! Tapi biasanya saya gabungkan dengan item sejenis.  Misal hari ini transportasi 25.000 (sebenarnya terdiri dari bensin 22.000 dan parkir 3.000).
3.       Saya mencatatnya di laptop, menggunakan excel, ada beberapa pos di dalamnya, hal ini memudahkan saya mengetahui berapa total kebutuhan makan kami bulan ini, berapa rata-rata kami harus menyisihkan uang untuk dana sosial per bulannya. 
Contoh pos yang saya gunakan untuk keuangan rumah tangga kami :
ü  Kebutuhan rumah tangga (di dalamnya ada belanja rumah tangga, sabun, beras, sayur, dll),
ü  Makan/jajan (ini rincian berapa uang yang dikeluarkan untuk makan di luar, jadi akan ketahuan, ternyata jauh lebih irit jika kita memasak, dibandingkan makan/jajan di luar),
ü  PLN & iuran sampah,
ü  laundry,
ü  pulsa,
ü  transportasi,
ü  KPR,
ü  dana sosial (rinciannya biasanya tengok bayi, tengok kerabat yang sakit, melayat, mantenan, traktir teman/kerabat, oleh-oleh, zakat maal, shadaqah, infaq),
ü  Sandang (isinya item-item ketika harus beli sandang, tidak setiap bulan ada pos ini)
ü  Kosmetik/salon (pos ini pun tidak setiap bulan ada)
ü  Buku (jatah ini sebenarnya jadi prioritas, karena kami berdua mencintai buku, tapi lagi-lagi melihat sikon, apakah keuangan memungkinkan, dan apakah kami benar-benar memerlukan buku tersebut?)
ü  Lain-lain (pos segala ada, yang belum di-cover di pos sebelumnya),
ü  Mudik/liburan (pos ini tidak selalu dalam setiap bulannya).
Ah iya, kami berdua memang belum mempunyai anak, sehingga posnya cukup simpel.  Mungkin para ibu bisa menyesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing yaaa,. J
Saya merasa terbantu dengan menyusun laporan keuangan simpel seperti ini.  Setiap akhir bulan bisa memantau, mana pos yang over budget, sehingga harus bisa memutuskan mengurangi pos lainnya. Misalkan bulan ini terlalu banyak dana sosial yang diperlukan, maka bukunya libur dulu, dll.
Jadi, masih ragu dan beralasan macam-macam untuk mencatat pengeluaran pribadi maupun rumah tangga anda? Lha, untuk aktif bersosmed dan baca grup whatsapp saja sempat, masa untuk mencatat pengeluaran sendiri masih malas? J



1 komentar:

  1. betul, ini kulakukan sejak kuliah..hahha...sbg anak kos ongkos pas2an amat penting utk cermat, pas bersuami malah dianggap kurang kerjaan saat kulaporkan perihal keuanga keluarha..eaallahh

    BalasHapus