Sabtu, Juni 06, 2015

[IIDN Jogja] : Harapan dan Impian

Siapa saya sih, yang kemudian malah didaulat jadi pengurus komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Jogja?  Konon katanya, karena tampang saya seperti tukang tagih, maka tepat jika saya menjadi bendahara IIDN Jogja, merangkap tukang tagih iuran bulanan. Hahaha, sedihnya dianggap sebagai tukang tagih.  :D

Akhir tahun 2014, saat itu tepat satu tahun saya bergabung dengan IIDN Jogja, banyak hal-hal baru yang saya pelajari.  Banyak orang baru yang saya kenal juga.  Adaptasi tetap berlangsung, bagaimana lebih mengenal si A, B, hingga Z.  Saya paham, semua orang punya keunikan dan karakteristiknya masing-masing. 

Akhir tahun 2014, diadakan pemilihan pengurus IIDN Jogja, kemudian muncullah beberapa nama.  Hingga akhirnya disepakati format kepengurusan adalah sebagai berikut : Irfa Hudaya sebagai Koordinator Wilayah, Indah Novita Dewi dan Novida Eny menjadi Sekretaris 1 dan 2, saya sebagai Bendahara, Vanny Mediana dan Etyastari sebagai Sie Humas, serta Astuti sebagai Penasehat.

Kata teman-teman, kombinasi ini diharapkan membawa kemajuan bagi IIDN.  Bismillah, kita coba saja!  Tetapi tetap saja, para pengurus ini memerlukan anggota IIDN yang solid dan siap bekerja sama. Pengurus bukanlah siapa-siapa, tanpa keaktifan anggota semua.

Karena komunitas menulis ya berarti saling mendukung untuk tetap menulis, saling menguatkan dan mendukung dalam menulis.  Jika yang lainnya, itu bonus semata.  Misalnya keakraban yang terjalin, ilmu-ilmu selain kepenulisan yang saling di-share, atau bahkan rezeki yang dibawa pulang pasca kopdar.  Hahaha, emak-emak mana yang tidak mikir makanan kalau sudah berkumpul? :D *ups, out of topic

Aku sangat yakin IIDN Jogja makin banyak karyanya di masa yang akan datang.  Baik karya secara personal, maupun karya secara komunitas.

Simpel, harapannya untuk IIDN Jogja ke depan.  Semoga karya-karya anggota IIDN semakin banyak yang berjejer di toko buku.  Jika selama ini baru ditemukan karya-karya mba Agustina Soebachman, Fika Faila Sufa, Vanny Mediana, Irfa Hudaya, Bayu Insani, maka semoga ke depannya makin banyak karya yang menyusul.  Juga karyaku, Aamiiin J


Ah jadi tidak sabar menunggu kopdar berikutnya, soalnya selalu ada ilmu baru yang dibagi lho J

Jumat, Juni 05, 2015

Memasak, antara refreshing dan pengabdian

Tergelitik dengan status seorang sahabat di status facebooknya beberapa waktu yang silam. Saat itu dia menulis tentang pentingnya seorang istri melayani suami, dalam hal makanan dan minuman.  Sebisa mungkin, makanan dan minuman yang disajikan adalah hasil karyanya.  Hal ini bukan membuat istri menjadi inferior, akan tetapi menjadi ajang melekatkan diri antara suami istri, juga keluarga kecil mereka.  Sahabatku juga mencontohkan, bahwa prinspinya menjadi cemoohan temannya yang lain, dan dianggap kuno.  Hari gini ka nada asisten, ada warung, kita bisa tinggal suruh, atau bahkan tinggal beli.  Status ini menarik, bahkan untuk sekedar saling berkomentar.

Juga ketika seorang teman bercerita, "aku tidak suka memasak, dan terlalu sibuk untuk sekedar memasak.  Semua yang menyajikan adalah asisten di rumah, bahkan hingga minuman yang dia minta."  Jujur saya terkaget mendengarnya, tetapi apa hak saya untuk menilainya.  Hanya saja, saya kemudian berpikir, dan bertekad, saya akan berusaha memasak dan menyajikan minuman untuk suami saya, selagi saya bisa.

Bukan, bahasan ini bukan kemudian menjadi salah satu “Mommy War” yang meributkan antara memasak atau membeli makanan, berkarir atau tetap tinggal di rumah.  Bukan itu!

Saya hanya kemudian merujuk pada diri sendiri, betapa saya ternyata menyukai kegiatan di dapur.  Dapur adalah tempat saya bereksperimen, juga suami saya. Suami? Iya, suami saya suka memasak. 
Suami yang terlahir dari keluarga pencinta makanan, membentuknya menjadi pribadi yang tidak ragu-ragu berada di dapur, memasak, mengulek, bahkan memanggang roti.  Ibunya yang jualan makanan sering memintanya untuk menemani ke pasar berbelanja.  Hal inilah yang membuat suami jadi familiar dengan dapur, alat masak, hingga bahan makanan.

Itu baru tentang suami.  Lalu bagaimana dengan saya?  Tadi saya tuliskan, bahwa memasak adalah ajang refreshing saya juga pengabdian saya.  Bagaimana bisa?

Saya, si bungsu dari 9 bersaudara ditinggal ibunda tercinta, yang meninggal dunia ketika saya kelas 1 SMP.  Kondisi inilah yang membentuk saya jadi terpaksa harus bisa memasak.  Karena saat itu, saya hanya tinggal dengan salah satu kakak, kakak ipar, serta bapak.  Bapak yang terbiasa dengan masakan Ibu yang lezat, harus mengikhlaskan diri menyantap masakan warung.  Sementara kakak ipar juga belum terlalu pandai memasak.  Jadilah saya juga belajar memasak.

Hingga kemudian saya menikah, saya tidak canggung lagi dengan memasak.  Walaupun hanya masakan simpel, tetapi berusaha saya masak sendiri.  Bersama suami, terkadang kami mencoba resep-resep baru di akhir pekan.  Tapi walau demikian, kami berdua juga tidak anti untuk jajan di luar.  Bahasa kerennya sekarang, wisata kuliner.  Terkadang kami sangat menikmati kuliner yang tersaji.  Namun tidak jarang juga kami kemudian berujar, “ah Yang, kalau kaya gini sih kita juga bisa masak di rumah.”

Kemudian ketika saya melanjutkan sekolah di Jepang, mau tidak mau saya harus memasak.  Yang pertama karena alasan ekonomis, kedua tentu saja agar semua makanan yang masuk adalah halal semata.  Ah iya, bicara refreshing, memasak di dapur apato kala itu juga jadi ajang refreshing saya ketika mulai jenuh dengan tugas kuliah dan data-data. Bahkan kemudian saya menawarkan diri menjadi tukang catering kecil-kecilan bagi sebagian teman di apato.  Mereka yang patungan membeli bahannya, dan saya memasakkan untuk mereka.

Benar, memasak itu ajang refreshing, juga seperti sekarang ini.  Menyempatkan diri untuk memasak, menjadi ajang refreshing dari rutinitas yang kadang menjemukan.  Jika sempat, saya usahakan memasak di pagi hari, untuk sarapan, sekaligus untuk bekal saya ke kantor. 

Dulu, saya masih sering jajan di warung, atau beli lauk.  Lama kelamaan, saya memilih memasak sendiri.  Toh waktu yang diperlukan sama, antara memasak yang simpel dengan antrian di warung.  Udah gitu, saya semakin yakin juga dengan makanan yang dihasilkan, dibandingkan makanan di warung, yang kita tidak tahu apa bahan-bahannya.  Jangan lupa, kalau masak sendiri, pasti lebih ekonomis dibandingkan jika membeli di warung.

Lalu apa maksudnya dengan pengabdian?  Bagi saya, memasak itu pengabdian.  Untuk suami, untuk keluarga, untuk orang-orang terkasih.  Bagi saya, dalam sebuah pernikahan, perlu saling memuja, saling menurunkan ego.  Nah, memasak adalah cara saya memuja orang yang saya masakkan.  Juga cara saya menurunkan ego, karena saya memilih menyempatkan diri memasak, dibandingkan tidur, nonton televisi, maupun main gadget.  

Apalagi ketika memasak, saya berusaha mengikuti cara ibunda yang selalu berdzikir, shalawatan sembari memasak. Konon, dzikir itulah yang membuat masakan kita menjadi semakin lezat.  Ada ramuan doa, cinta yang tersaji dalam makanan yang kita olah.

Dan, pernah saya dengar istilah “cinta seorang pria berasal dari perutnya, jangan biarkan dia kelaparan, jika tidak ingin dia mencari makanan ke luar rumah.”  Istilah yang dalam menurut saya.  Lapar ini bisa berarti harfiah maupun kiasan.  Secara harfiah, ya usahakan suami kita cukup kenyang ketika di rumah.  Sajikan makanan terbaik yang kamu bisa.  Secara kiasan, lapar ini bisa banyak hal, tapi bukan kompetensi saya membahasnya di sini.  Dan karena saya sepakat dengan istilah itu, tidak ada salahnya saya berusaha membuat suami saya “kenyang” ketika di rumah.

Hmmm, apalagi ya? Oke, izinkan saya kembali ke dapur, karena sekarang waktunya saya memasak, menyajikan hidangan terbaik yang saya bisa untuk suami saya siang nanti.