Selasa, Desember 30, 2014

Benny Rhamdani berbagi Tips dan Trik Menulis Cerita Anak

Workshop #BeraniNulisBuku Cerita Anak ini dilaksanakan pada tanggal 27-28 Desember 2014 yang lalu, di Yogyakarta.  Pada kesempatan kali ini, narasumbernya Benny Rhamnadi, Editor in Chief Mizan Publishing.
Pada postingan kali ini, saya jabarkan poin-poin penting untuk menulis cerita anak. Banyak  hal yang telah dikemukakan kang Bhain (panggilan akrab kang Benny Rhamdani, red.).  Sebagai pembuka, kang Bhain mengatakan bahwa ide harus diwujudkan.  Proses kreatif untuk mendapatkan ide cerita dapat diperoleh dari banyak hal.
Kumpulkan
Pilih

Tulis
ü Lingkungan
ü Media
ü Person
ü Diri sendiri/
Interpersonal
ü Unik
ü Bernilai
ü Inspiratif
ü Outline
ü Tulis
ü Self editing

J  Bisa jadi ide banyak, tetapi tidak semuanya ditulis.  Pilih ide yang unik saja.  Apa definisi unik? Unik artinya ide tersebut belum pernah tertera di karya orang lain.
J Bernilai, harus kita perhatikan apa nilai dari cerita tersebut.  Juga cari tahu apa manfaatnya bagi pembaca.
J  Inspiratif, harus bisa menginspirasi.
J  Self editing is a must!
J  Bagaimana cara membuat outline cerita anak? Buatlah per halaman, buatlah simpel.
J  Contoh-contoh plot cerita anak :
v  Pada suatu masa………………………………  Setiap hari………………………...  Tiba-tiba …………………………………………..  Kemudian…………………….  Akhirnya………………
v  Sehari dalam hidup X, misalnya sehari sebagai penulis, sehari sebagai penari balet.
v  Pengalaman pertama X, misal pengalaman pertama ke luar negeri, pengalaman pertama memasak.
v  Tokoh tertidur dan bermimpi.
v  Cerita perjalanan.
v  Penyelesaian masalah tokoh (misal memecahkan kacamata ibu).
v  Metamorphosis (tentang hewan-hewan, kupu-kupu, katak, ular)
J  Kekuatan cerita anak di karakternya, terlebih jika cerita tersebut fantasi.
J  Cerita anak jangan dibatasi logika.  Jika masih ragu, dibuatkan semacam “jembatan” dengan kondisi nyata.
J  Tips mengembangkan ide cerita :  berpikir bebas, kemudian bangun karakter yang unik, gambarkan secara jelas, semua 5W+1H harus terangkum, dan selesaikan endingnya.
J  Fungsi membaca :
ü Sebagai cermin.  Sering kita membaca sebuah cerita/buku, kemudian kita berceletuk “cerita ini mirip dengan kisah hidupku”.  Sebuah cerita belum tentu menjadi cermin bagi semua orang, hanya sebagian saja.
ü Jendela dunia.  Buku adalah jendela dunia, hal ini tepat, karena dengan membaca buku, kita bisa tahu banyak hal diluar kehidupan di sekeliling kita.
ü Pintu geser/sliding door.  Sebuah buku/cerita dikatakan sukses, jika bisa menjadi sliding door bagi pembacanya, sehingga pembaca bisa masuk ke dalam cerita, dan seolah-olah mengalami sendiri ceritanya.
J  Sebuah ide lebih baik dipikirkan dengan setting yang berbeda, dari sudut PoV yang berbeda.  Misalnya tema anak kecil yang trauma dengan ombak di pantai.  Ide tersebut sangat biasa jika memakai PoV si anak kecil.  Tetapi dengan mengubah PoV, yaitu si ombak, ide cerita ini menjadi unik.
J  Lalu bagaimana cara membuat judul?  Judul harus mencerminkan tema cerita, judul harus menarik perhatian, tetapi judul jangan sampai membocorkan cerita.
J  Membuat paragraf awal yang baik, bisa diawali dengan :
ü  Bunyi benda.
ü  Dialog (kata-kata yang diucapkan oleh para tokoh yang kita buat).
ü  Pengenalan tokoh.
ü  Deskripsi, yaitu penggambaran suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana alam di pagi hari, suasana kelas, dll.
ü  Narasi, yaitu penggambaran kondisi dinamis, gerak/action tokoh-tokohnya
J  Kalimat pertama harus menarik.
J  Kemudian setelah paragraf pertama, lalu bagaimana?  Selanjutnya mulailah menulis semuanya, sesuai tema. Bersenang-senanglah!  Jangan lupa padukan dengan baik antara dialog, narasi dan deskripsi.  Agar lebih optimal pengerjaannya,  setelah selesai, coba baca dengan suara keras, cerita yang telah kita tulis tersebut.  Perhatikan dengan seksama, apakah cerita tersebut sudah nyaman kita baca?  Jika belum, perbaiki!
J  Anak-anak menyukai buku atau cerita yang membuat bahagia.  O.K.I, jangan terlalu berat untuk anak-anak.
J  Jika mengalami kesulitan dalam penokohan, pakailah tokoh yang kita kenal, tetapi ditempelkan dalam tokoh yang kita tulis.  Misalnya teman kita suka makan, maka kita bikin tokoh seorang kurcaci yang doyan makan.
J  Jangan terlalu panjang, maksimal polanya SPOKK.
J  Jadi penulis, haruslah peka terhadap kesalahan.  Sering-seringlah auto-editing.  Hal ini mengasah kepekaan kita dalam membuat kesalahan.  Salah satu caranya ketika kita membaca buku, siapkan pensil, lakukan koreksi terhadap buku tersebut.
J  Nama tokoh usahakan berbeda, agar pembaca tidak bingung.  Terlebih ini adalah cerita anak, pakailah nama yang berbeda.  Tokoh yang ditampilkan juga tidak perlu banyak, sedikit tetapi berbeda.


Bagaimana Menembus Penerbit?
J  1st, stalking webnya, cari tahu bagaimana kebijakan perusahaan tersebut.
J  2nd, pergi ke toko buku, lihat-lihat buku terbitan penerbit tersebut.  Perhatikan juga apa saja yang laris, sedang booming.  Lakukan wawancara informal dengan calon pembeli yang ada di took tersebut.  Apa kira-kira yang mereka harapkan, dll.
J  Berkomunitas.  Dengan berkomunitas, maka semangat akan tetap terjaga.
J  Buatlah seri.  Kenapa? Penerbit lebih menyukai buku-buku seri, karena mudah bagi mereka untuk berpromosi.  Selain itu, buku seperti ini dikonsep sejak awal, sehingga pengerjaannya lebih mudah, karena mengikuti pola awal, baik isi buku maupun pengemasannya.  Dari segi promosi juga akan lebih efiesien bagi penerbit.  Alasannya lainnya, jika diterima pasar, maka akan lebih cepat membuat turunan serinya.
Misalnya cergam seri Frozen, cergam seri Ipin-Upin.
J  ATM : Amati, Tiru, Modifikasi!
J  Buatlah proposal : jabarkan SWOT
J  Jangan lupa, perhatikan kemasannya.  Kemasan mencakup : logo/ikon buku seri tersebut, bagaimana pola covernya, dan jangan lupa pilihlah illustrator yang tepat.



See, banyak yaa trik dan tips menulis cerita anak, mari kita praktekkan bersama-sama yaaa,. Salam sukses untuk kita semua,. :)

Sabtu, November 15, 2014

Dee Talkshow, Travel the Words, Create the Memories, 15 Nov 2014

Ketika tahu bahwa Dewi Lestari, akan datang ke Yogyakarta, aku sangat antusias.  Bahkan jauh-jauh hari telah kupesan tiket pada panitia Scholatika Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.  Lima puluh ribu, harga yang sangat layak untuk mendapatkan kesempatan emas bertemu penulis pujaan hati.  Bahkan cenderung murah menurutku.  Bagaimana tidak, di kesempatan itu aku akan bertatap langsung dengan Dewi “Dee” Lestari, mendengarkan segala ceritanya, hingga booksigning.  Daaan, aku berharap ada kesempatan untuk berfoto dengannya.
Ki - ka : Dewi, Tinbe, Ety, n me
















Ruang aula besar dihiasi para panitia berseragam merah, serta hingar bingar para peserta Dee Talkshow, Travel the Words, Create the Memories, 15 Nov 2014. Betapa hidup nuansa dinamis di ruangan ini, nuansa para pecinta berat “Dee”
Dan hadirlah si wanita multi talenta dengan blus merah darahnya dan celana panjang casual hitamnya. “Cantiiik, elegan, pintar” gumamku berulangkali pada sahabat – sahabatku satu komunitas. Yup, kami berempat sangat antusias ketika mengetahui kalau Dee akan hadir ke Yogyakarta. 

Hmmm, let me share what I got at that talkshow yaks,.

Siapa penulis idola Dee?
Sapardi Djoko Darmono, bagi saya tulisan beliau sangat sarat makna. Buku yang saya sukai dari beliau “Hujan Bulan Juni”.

Apa arti menulis menurut Dee?
Bagi saya, menulis merupakan perjalanan sangat panjang, yang telah saya tempuh. Kita kadang terkeana euphoria, antusias ketika buku pertama terbit, tetapi terlena setelahnya, sehingga kemampuan menurun.  Dan lagi, menulis itu adalah proses yang terus-menerus, bukan hanya ketika mengetik, tetapi sepanjang waktu.

Dee adalah wanita multi talenta, yang bisa menyanyi, menulis lirik lagu, hingga menulis novel, lalu mengapa Anda kemudian lebih memilih menjadi penulis?
Well, sebenarnya saya adalah wanita rumahan, saya sebenarnya tidak betah pergi lama-lama, terlebih setelah berkeluarga. Jika saya menyanyi, saya harus menempuh minimal satu jam perjalanan berangkat, satu jam perjalanan pulang, itupun jika tidak macet.  Belum lagi di lokasi saya harus menunggu, padahal menyanyinya mungkin hanya 1-2 lagu.  Sangat melelahkan bagi saya.  Dan lagi saya tidak suka meninggalkan rumah, meninggalkan anak-anak saya.  Kemudian seiring berjalannya waktu saya memilih menjadi penulis.  Menjadi penulis menyenangkan lhoo, kita bisa produktif sepanjang masa, bisa dilakukan dari rumah, terlebih lagi ketika saldo rekening kita bertambah karena royalty. J Menulis bisa dilakukan oleh siapapun, usia berapapun.  Sangat menyenangkan, kurasa.

Selama ini ketika Anda menulis, diksinya sangat luar biasa, adakah bagian-bagian dari novel tersebut yang dilatarbelakangi oleh pengalaman hidup Anda?
Awalnya iya, bahkan tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar penulis akan menulis tentang dirinya, pengalamannya, akan tetapi lama-kelamaan dia akan reach out.  Seperti pada Supernova I, dskusi Ruben dan Dimas itu ada beberapa nyata dalam benak saya lho.  Ada percakapan-percakapan yang memang bersliweran dalam benak saya, dahulu kala.  Tapi kemudian lama kelamaan tidak ada sedikitpun tentang saya yang menempel pada karya-karya saya.  Saya tidak menjadikan diri dan fisik sebagai bahan tulisan, tetapi lebih ke banyak imajinasi.

Kata orang, setiap penulis punya dua kehidupan, bagaimana menurut Anda?
Setiap penulis pasti punya “double kamera” yang digunakan, satu dia gunakan sebagai pribadi sendiri, dan satunya lagi dia gunakan sebagai penulis, bagaimana dia bisa mendapatkan inspirasi-inspirasi dari segala yang berseliweran di depannya.  Sebagai contoh, tadi ketika saya turun dari pesawat di bandara Adisutjipto, “double kamera” saya berfungsi.  Satunya sebagai Dewi Lestari pribadi, saya mungkin berpikiran “bagaimana caranya segera mengontak panitia”. Sementara saya sebagai penulis, malah akan berhenti sejenak melihat ratusan laron mati di landasan bandara.  Saya sebagai penulis, malah akan berhenti, dan mengamati, seandainya ada diantaranya yang masih hidup, dan dia akan menjelma menjadi sesuatu, dan bla bla.  Imajinasi saya pasti akan mengemas laron-laron, yang bagi sebagian orang lain sangat biasa, tapi tidak bagi penulis.

Bagaimana Anda mendapatkan inspirasi untuk karya-karya Anda yang luar biasa ini?
Sebenarnya, kita bukan mencari inspirasi, tetapi kitalah yang dicari inspirasi. Inspirasi tidak pernah meninggalkan kita, tetapi kitalah yang kurang mengasah intuisi, menajamkan feeling, sehingga seolah-olah kita yang tidak mendapatkan inspirasi sama sekali.  Padahal kita yang tidak mengasah intuisi.

Selama Anda menulis karya-karya yang spektakuler ini, apakah selalu membuat kerangka terlebih dahulu?
Ketika saya menulis Supernova I yang 47.000 kata, dan dulu saya menulisnya tanpa kerangka.  Mengalir saja.  Tetapi setelahnya, saya menggunakan kerangka, selain itu menjadi batasan tulisan saya, juga membuat saya lebih efektif dalam menulis. Walau dengan kerangka, tidak menutup kemungkinan saya terus berimprovisasi.
Ada dua tipe menulis : (1) sistem organik, mengalir, cerita tumbuh, (2) sistematis, dengan kerangka.  Saya menggunakan keduanya.  Jadi semi organic dan semi kerangka.
Pada saat menulis “Perahu Kertas” (1996) saya menggunakan sistem tumbuh, mengalir, hingga sempat vakum, karena saya kehabisan “bensin” dan “energy.  Hingga 11 tahun kemudian, 2007, saya menulis ulang naskah tersebut.
Pesan saya, jangan pernah buang naskah-naskah kalian yang belum jadi, pasti suatu saat akan berguna. Contohnya “Perahu Kertas” saya ini.

Seringkali penulis pemula mengalami euphoria, merasa tulisannya paling keren, wajar atau tidak menurut Dee?
Sangat wajar, bahkan saya sempat mengalaminya. Kita merasa kita paling hebat, tulisan kita paling luar biasa.  Karenanya, biasakan beri “waktu fermentasi”, endapkan naskah kita untuk beberapa hari, biasanya akan menunjukkan “wajah aslinya” J

Pernah gak sih seorang Dee galau? Gimana saran Dee untuk teman-teman yang sering galau?
Kalau galau, nikmati saja, kemudian tulis. Biarkan dia kembali dalam bentuk royalty.  Itu namanya galau yang produktif J

Ada tips untuk para penulis pemula?
Jadilah pengamat yang baik, dan teruslah berlatih.  Menulis itu seperti otot, yang akan berkembang jika dilatih. Latihlah terus, keep it small, keep it going.  Tahu tidak, seorang Ade Rai juga tidak terlahir dengan badan kekar, dia berlatih terus-menerus. J *audiens tertawa*

Bagaimana Anda menjiwai tokoh-tokoh yang sedang Anda tulis?
Pasti sebagian teman-teman yang disini dan pernah menulis, pasti pernah mengalami rasa jatuh cinta pada sang to
koh, atau seperti sahabat.  Seperti sekarang, saya merasa sedang bersahabat dengan Alfa.  Dulu ketika menulis Akar, saya merasa jatuh cinta pada Bodhi.  Seandainya ia nyata, mungkin sudah saya lamar. J
Karakter yang saya tulis selalu bernyawa, saya menulis menyesuaikan dengan situasinya.  Ketika si tokoh jatuh cinta, saya juga ikut-ikutan bahagia, demikian juga ketika menangis maupun tertawa.

Kenapa Anda bergonta-ganti nama, dari Dee kembali menggunakan Dewi Lestari?
Pertama kali saya muncul, saya lebih terkenal sebagai Dewi RSD.  Kemudian ketika menulis Supernova Satu, saya pengin punya identitas diluar saya sebagai penyanyi.  Hingga saya pakai “Dee”.  Belakangan menjadi ribet, Dee siapa?  Hingga akhirnya kembali menggunakan nama “Dewi Lestari”, nama asli sejak lahir.

Yang terakhir, novel-novel Anda sangat banyak yang suka, namun juga tidak jarang ada yang mengkritik habis-habisan.  Bagaimana Anda menyikapinya?
Bagi saya, menulis adalah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.  Capek jika harus menuliskan sesuai dengan keinginan pembaca.  Dan itu artinya kita akan kehilangan orisinalitasnya.

Then
obrolan dengan si cantik Dee telah usai, kemudian para audiens berkesempatan minta booksigning dan photo session pastinya. Puaaas rasanya bertemu salah satu dengan penulis idolaku.  Sukses selalu ya Dee, karyamu selalu menginspirasi. Muaaah,.. :*












IIDN Yogya n Dee (15 Nov 2014)






Sabtu, Juli 12, 2014

Oleh-oleh Silaturahim ke Citra Media Group

Bagi para penulis dan calon penulis seperti anggota Ibu-Ibu Doyan Nulis ini, menjalin link dengan para penerbit adalah sebuah keharusan.  Karena dari situ lah kita bisa mengetahui bagaimana tipe masing-masing penerbit, bagaimana kekhasan masing-masing penerbit, apa yang diminati masing-masing penerbit, dan tentu saja menjalin link dengan penerbit.
Tidak sedikit calon penulis serta penulis pemula yang tidak mengetahui hal-hal tersebut di atas.  Dan seringkali hal ini menjadikan kita menjadi ragu untuk menulis dan menghasilkan karya.  Tidak jarang kita beranggapan bahwa sungguh sulit untuk menembus penerbit.  Padahal jika kita berusaha tanpa kenal lelah, dengan mengetahui jalannya untuk menembus penerbit, maka insya Allah segala usaha kita akan berbuah manis,. J
Ada beberapa penerbit yang ada di Yogyakarta, dan diantaranya adalah penerbit Citra Media Group.  Penerbit yang satu ini berada di Timoho, selatan UIN Sunan Kalijaga.
Mba Fika Faila Sufa, yang selama ini sudah menulis dan berjodoh dengan Penerbit Citra Media Group, membuatkan janji ketemu teman-teman IIDN Jogja dengan pihak Citra Media Group.  Great, kopdar illegal yang sangat bermanfaat, insya Allah,. J
Jadilah beberapa mbak-mbak cantik anggota IIDN Jogja pada hari Sabtu, 21 Juni 2014 mendatangi kantor Citra Media Group, untuk sekedar bersilaturahim dan menjalin kerjasama.  Kami berenam, yaitu Fika Faila Sufa, Irfa Hudaya, Liya Swandari, Nurcahyani Dewi, Etyastari dan saya, berharap banyak hal yang bisa kita peroleh dari silaturahim kali ini.
Kami berenam diterima oleh Bapak Agung, selaku pemilik Citra Media, serta salah seorang editor, mas Erick Namara.  Banyak hal yang dishare pada kesempatan kali ini, bahkan mereka berdua sangat antusias  dan berterima kasih pada teman-teman IIDN Jogja yang telah berkenan hadir.
Guys, agar lebih simpel, saya akan langsung menyimpulkan, apa-apa saja yang kita dapatkan dari silaturahim singkat ini.
ü Citra Media Group sangat welcome dengan teman-teman IIDN Jogja yang akan mengajukan naskah.
ü  Selama ini genre yang paling laku dari buku-buku Citra Media adalah : anak-anak, fiksi, agama, penunjang pelajaran, serta resep masakan.  Walau ada 5 genre tersebut, namun tidak menutup kesempatan pada masuknya naskah masuk selain 5 genre tersebut.
ü  untuk naskah-naskah tersebut, Citra Media Group menerapkan sistem bagi hasil (atau kita lebih sering mengenalnya sebagai sistem royalty) maupun sistem beli putus.  Adapun sistem apa yang akan diterapkan, terkait dengan naskah yang kita masukkan, serta negosiasi langsung dengan pihak Citra Media Group.
ü  Naskah yang dimasukkan bisa berupa draft,  dengan komposisi :
1)     Outline;
2)    Contoh naskah 1 bab;
3)     Synopsis;
4)    Curiculum vitae penulis;
5)    Selling point dari buku kita apa.
Untuk kemudian akan disepakati oleh penerbit dan penulis tentang kapan deadline  naskah komplit akan masuk ke penerbit.
ü  Contact Person yang bisa dihubungi adalah mas Erick Namara, di email ericknamara@gmail.com, facebook Erick Namara, facebook Citra Mediagroup.
Hmmm,. Ternyata begitu tho cara masuk ke penerbit.  So, mari kita menulis dan menulis, semoga segera berjodoh dengan penerbit,.
Semangat ya teman,.. J :*





Gambar suasana diskusi di kantor Citra Media Group :)

Kamis, Juni 26, 2014

CERITA RAHMA

Dear Tuhan,
Sembuhkanlah ibuku, sebentar lagi bulan puasa. Kalau ibu masih sakit, lalu siapa yang akan memasakkan kami kolak untuk berbuka puasa.  Kalau ibu masih sakit, siapa yang memasakkan kami makanan untuk sahur dan buka puasa.  Sekali lagi, tolong sembuhkan ibuku, Tuhan.

Gadis berambut panjang itu menuliskan rangkaian doa untuk ibunya yang terbaring sakit di diary kesayangan.  Disambungnya dengan kata-kata yang muncul dari hatinya.

Aku rindu ibuku, aku rindu semua tentang ibu.  Aku sudah rindu untuk bercerita tentang sekolahku.  Aku rindu belaian ibu, juga rindu bercerita banyak hal menjelang tidurku.  Bahkan, aku pun sangat merindukan masakan ibu, aku sudah sangat bosan dengan masakan Uwa Tinah.

*********

3 Ramadhan 1411 H
Sore hari menjelang saat berbuka puasa, terlihat si gadis kecil itu sedang mengisi waktu dengan membenahi gelas-gelas yang telah ia cuci ke lemari penyimpan pecah belah. Sebagai gadis tiga belas tahun, ia telah banyak diajari pekerjaan rumah tangga oleh ibunya.

“Prang,..” tiba-tiba kaca di lemari tersebut mendadak pecah tanpa sebab.  Ah, mungkin tersenggol tanpa sengaja olehku, piker si gadis kecil.  Segera ia benahi pecahan gelas yang berserakan, dan melanjutkan pekerjaannya. 

Waktu telah menunjukkan pukul 16.45, beberapa saat lagi adzan maghrib berkumandang.  “Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini, sebelum adzan maghrib berkumandang”  batinnya seraya melirik jam dinding.

“Ah, aku semakin rindu pada ibu, aku rindu masakan ibu yang biasa tersaji di saat berbuka puasa maupun bersantap sahur.  Bukan masakan Uwa Tinah.  Ibu, lekaslah sembuh, Rahma sudah rindu pada ibu”  gadis kecil itu lagi-lagi terisak. 

“Ibu jangan lama-lama sakitnya ya, Rahma dan Bapak sudah bosan masakan Uwa Tinah”, perlahan air mata menetes di pipinya.  Rindu yang teramat sangat telah membuatnya semakin terisak.
Sementara itu, di kejauhan berkumandanglah adzan maghrib penanda masuknya waktu berbuka puasa. 

**************

Waktu telah menunjukkan pukul 20.00, gadis kecil itu pulang dari mushala menunaikan tarawih.  Lagi-lagi ia rindu ibunya, rindu menunaikan ibadah tarawih di  mushala bersama.  

Langkahnya terhenti di depan rumah, rumah yang mulai tidak terurus tamannya.  Mendadak ia kaget, ada mobil ambulans di depan rumahnya, ada apakah?  Lamat-lamat dibaca tulisan disamping ambulans, Rumah Sakit Dr Margono Soekardjo Purwokerto.  Ia paham dengan apa arti tulisan itu.

Sebuah brankar didorong, ada sosok yang ditutupi kain panjang.  Ia hanya bisa terpana melihatnya.  Ia acuhkan orang di sekelilingnya, bahkan bapaknya, kakaknya, bahkan semua tetangga dan saudara jauhnya yang telah berkumpul di rumahnya yang mendadak penuh sesak. Langkah demi langkah mengantarkannya pada sosok diatas dipan itu.   Sosok yang wangi, bahkan wanginya pun bisa dirasakan semua orang yang ada di ruangan tersebut.  Wangi alami, bukan wangi parfum maupun sabun.  Wangi yang selalu diingat sang gadis kecil, bahkan hingga dewasa menjelang.

Sebagai anak kelas 1 SMP, dia paham bahwa sosok di atas brankar itu diantar pulang dengan satu alasan, sosok itu sudah tiada. Si gadis kecil itu sadar, Ibundanya telah tiada, dan si gadis itu tak punya daya untuk menangis, atau bahkan meratap. Dia hanya menatap nanar pada jenazah di depannya, dan kemudian jatuh terduduk. Dia tidak menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya menatap sedih dan iba padanya, pada seorang gadis bungsu dari almarhumah Siti Aminah Yahya.

Keesokan harinya, gadis kecil itu ikut memandikan jenazah ibunya, walau hanya mengusapkan sabun, karena dia memaksa ingin memandikan jenazah ibunya, hingga menyolati jenazah, bahkan mengantarkan ke pemakaman. Semuanya dilakukannya tanpa kata-kata. Gadis kecil periang itu telah menjadi pendiam, dalam hitungan waktu yang sangat singkat. Entah, mungkin dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi, atau dia terlalu shock dengan kejadian ini. 

Kemudian malamnya, dia menangis, dan meratap memandangi sosok ibunya di sebuah foto, dan berkata "Ya Allah, kenapa Engkau berikan jatah waktu hanya 13 tahun ibu mendampingiku? Aku mungkin anak nakal, tapi aku tidak pernah jahat ama Ibu. Jika Engkau marah karena aku lalai menjalankan shalat fardhu, aku janji akan melakukannya tepat waktu ya Allah. Tapi kembalikan Ibuku, ya Allah. Aku janji tidak akan bohong lagi, aku janji akan jadi anak baik. Aku kadang emang iri kalau ibu terlihat lebih menyayangi mbak-ku, tapi gakpapa deh, asal ibu bisa kembali, aku mohon ya Allah..." sesenggukan si gadis itu menatap foto ibunya yang tersenyum manis.


Lalu protesnya "Teman-temanku banyak yang nakal, Tuhan, tapi kenapa bukan ibu mereka yang dipanggil????!!!" kian lama tangisnya makin histeris, hingga membuat bapaknya dan kakak-kakaknya yang mengintip, bergegas memeluk dan menenangkannya.

#FiksiIIDNJogja