Selasa, Januari 29, 2008

DONGENG SEBELUM TIDUR

Ada hal yang sangat kusukai dari bapakku tercinta sejak kecil, yaitu kebiasaan beliau mendongengiku sebelum aku tidur. Begitu banyak dongeng yang bapak ceritakan, sampai aku lupa. Semuanya beliau dongengkan dengan bahasa Jawa Banyumas yang khas (kata orang, bahasa Banyumas sangat egaliter, red.). Tentang dongeng kancil nyolong timun (kayaknya dongeng ini benar-benar melegenda ya,..), tentang yuyu kangkang dan klenthing kuning, tentang sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w, tentang teladan Nabi Muhammad s.a.w (yang belakangan kuketahui, ini dinamakan shirah nabawi, dan bukunya banyak dikarang dan dijual,…).

Dongeng ini aku dengar hingga aku masuk SD, yang aku ingat adalah aku selalu didongengi bapakku ketika aku di TK. Ibuku jarang mendongengiku, karena ibu lebih sering beristirahat setelah seharian mengurusi pekerjaan domestik. (jadi dipikr-pikir, bapak ibuku juga telah menerapkan pembagian tugas dalam rumah tangga ya,..) Selama aku kecil, bapak yang lebih sering mengajariku belajar, juga mendongengiku. Aku tak pernah mempermasalahkannya, tak pernah menanyakan kenapa ibu jarang sekali mengajariku belajar. Kata orang, it doesn’t matter,..!!! yang penting, aku selalu dininabobokan dengan dongeng-dongeng dari bapakku.

Aku sangat menikmati masa-masa itu, dan yang aku ingat bapakku pasti berkata “ terus kancile tuku uwi karo kusan, uwisan,,,” artinya kurang lebih bahwa dongengnnya “uwisan” alias the end, alias rampung, alias tamat. Ini yang menjadi khas dari dongeng bapakku, sampai-sampai aku pun sempat protes ke guru TK-ku, “Bu, kok mboten ngagem uwi karo kusan, bapak mesti ngedhika ngaten nek ndongeng,..” (Bu, kok nggak pakai uwi dan kusan, bapak pasti bilang seperti itu kalau ndongeng,..) dan paling bu guruku hanya tersenyum dan menceritakannya pada ibu/bapakku jika mereka berjumpa.

Satu hal yang aku dapat dari hal ini adalah ternyata kebiasaan mendongeng cukup ampuh melekatkan antara anak dan orang tua, mampu menjadikannya sebagai moment yang tak tergantikan. Keinginanku adalah jika nanti aku punya anak, maka aku berusaha mendongeng untuknya setiap malam menjelang dia tidur. Alangkah indahnya,….

Bapak, titin kangen bapak,… titin pengin didongengi bapak malam ini,…

Padang, ketika kangen mendera,….

MOZAIK KEHIDUPAN TITIN SEPTIANA

Mozaik adalah pecahan kaca yang tersusun menjadi sebuah kaca yang cantik dan membentuk gambar tertentu. Ini definisi gampangnya, lalu kenapa aku mengambil kata “mozaik”? karena aku terbentuk seperti sekarang ini, ya karena pecahan pecahan masa lalu yang menyusunku menjadi seperti sekarang ini.

Mozaik pertama, aku terlahir 26 September 30 tahun yang silam dari rahim Siti Aminah, dari cintanya dengan Yahya, sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Nama yang telah kusebutkan tadi adalah kedua orang tuaku tercinta. 30 tahun mozaik-mozaik tercipta, dan akan terus tercipta hingga nyawa tercabut dari raga ini (suatu saat nanti,..)

Mozaik yang berwarna-warni melingkupi kehidupanku, merah, jingga, hijau, biru, putih, maupun hitam, semuanya menambah indah kehidupanku. Mozaik-mozaik ini akan aku ceritakan satu persatu, sebagai rasa syukur yang tak terhingga atas kehidupan ini.

Dengan latar belakangku yang dusun banget, di kaki gunung slamet, di posisi geografis yang strategis menhubungkan tegal dengan cilacap, tegal dengan yogyakarta. Yup, aku terlahir dengan latar belakang Banyumas yang kata orang “cablak” banget. Dan jadilah aku seperti ini, cah banyumas yang cablak, yang jauh dari kesan lemah gemulainya wong jawa. Yeah, it’s me,.!!

Senin, Januari 28, 2008

enterpreneurship, bisakah???

banyak buku yang mengupas bagaimana menjadi "good enterpreneurship", banyak buku yang mengupas bagaimana menjadi wirausaha yang sukses, dan banyak juga seminar maupun pelatihan yang mengupasnya,...

entah berapa buku telah saya baca, dan pelatihan enterpreneurship yang dilaksanakan oleh jutawan pendiri Primagama, juga telah diikuti, namun ternyata jiwa enterpreneurship saya tak juga menguat, malah semakin melemah.
saya semakin bersikap apatis, pasif, tanpa inisiatif lagi,...
padahal kata orang, saya dilahirkan dari keluarga yang nota benenya pedagang, otomatis jiwa dagang saya katanya lebih kuat, is it true,..???

sekarang saya jadi buruhnya negara, alias PNS. dan alasan kesibukan inilah yang menjagal kemampuan dagang saya untuk berkembang.

ah, ini kan hanya apologi kamu aja,... (kata kawan saya)
lalu saya ingin balik bertanya, lalu bagaimana caranya biar saya bangkit dan tidak lagi berapologi???

any suggestion??