Sabtu, Oktober 31, 2015

Cinta Indonesia dari Lereng Merapi

Merinding rasanya membantu teman-teman #ManggalaAgni, polhut, seluruh staf Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) serta masyarakat sekitar kawasan memadamkan api yang membakar kawasan TNGM.  Berulang kali kawasan hutan di Srumbung, kab Magelang terbakar.  Dan semuanya bahu membahu memadamkannya, tanpa lelah.  Bahkan para staf, polhut TNGM harus meninggalkan keluarganya untuk bergantian berjaga di pos, mengantisipasi kebakaran hutan yang berulang.

Nyaris dua bulan rekan-rekan berjaga dan berulangkali memadamkan api yang melalap pepohonan di kawasan TNGM, dan luasannya bahkan mencapai 200 hektar.  Diantaranya bahkan ada area restorasi yang baru kita rintis, untuk menghijaukan kembali Merapi.  Tetapi semuanya dilalap si Jago Merah.

Saya selama ini hanya mendengar perjuangan mereka, tanpa pernah bertindak nyata, hanya bisa mendoakan dari jauh agar mereka senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan.  Hingga suatu saat, 25 September 2015, saya bisa bergabung dengan mereka di Dapur Umum.  Peran yang sangat kecil rasanya dibandingkan jibsayanya para #ManggalaAgni nan gagah berani. Tapi demi Tuhan, inilah hal yang membukakan matsaya.  Betapa perjuangan memadamkan api, terlebih lagi dalam hal kebakaran hutan, akan sangat luar biasa melelahkan.  Bayangkan saja, dengan peralatan seadanya mereka harus memadamkan api di kawasan hutan yang seringkali topografinya tidak rata.  Dan lagi itu harus ditempuh dengan jalan kaki, bukan dengan kendaraan bermotor, apalagi mobil pemadam kebakaran.  Inilah salah satu yang menyebabkan pemadaman kebakaran hutan terkesan lamban dan tidak efektif.

Ketika beristirahat dan menikmati makan siang dari Dapur Umum, kutanya salah seorang masyarakat mengapa dia mau repot-repot memadamkan api, toh itu bukan hutan dia? “Hutan ini memang bukan punya saya mbak, tetapi jika saya diam, saya malu sama Tuhan, selama ini dikasih udara sehat, dikasih tanah bagus, kenapa saya tidak tahu berterima kasih? Saya membantu memadamkan api minimal untuk bersyukur pada Gusti Allah mbak,” ujarnya dalam bahasa jawa, seraya menggigit tempe hasil saya dan tim Dapur Umum memasak tadi.

“Inggih mbak, saya cinta Merapi, saya cinta Indonesia, karena itu saya pengin hutan ini kembali ijo royo-royo, tak perlu ada yang membayar, bahkan negara.  Karena sekarang lah saya membayar apa yang selama ini saya peroleh dari Merapi, dari tanah ini, udara dan air bersih,” jelasnya lagi ketika kutanya mengapa beliau mau bersusah payah memadamkan api, tanpa dapat imbalan apapun. “Saya orang bodo mbak, bisanya saya nggih namung ngaten, tidak bisa berbuat banyak, tapi mbak saya #CintaIndonesia,” mendadak mata saya berkaca.  Duh Gusti, Kau tampar hamba-Mu ini melalui perkataan si bapak ini, betapa apa yang kulsayakan untuk Indonesia jauh dari cukup.

Duh Gusti, jika Engkau berikan pada saya kesempatan, ku akan berjuang demi cinta saya pada Indonesia.  Tiada muluk-muluk, berbuat yang terbaik dalam bertugas demi konservasi alam, rasanya bukan sesuatu yang sulit bagi warga negara yang satu ini.  Baiklah, terima kasih Bapak, telah ‘menampar’ saya kala itu.

Sleman, 31 Oktober 2015


*Tulisan ini diikutkan dalam lomba kuis #CintaIndonesia yang diselenggarakan oleh #IIDNJogja

Sabtu, Juni 06, 2015

[IIDN Jogja] : Harapan dan Impian

Siapa saya sih, yang kemudian malah didaulat jadi pengurus komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Jogja?  Konon katanya, karena tampang saya seperti tukang tagih, maka tepat jika saya menjadi bendahara IIDN Jogja, merangkap tukang tagih iuran bulanan. Hahaha, sedihnya dianggap sebagai tukang tagih.  :D

Akhir tahun 2014, saat itu tepat satu tahun saya bergabung dengan IIDN Jogja, banyak hal-hal baru yang saya pelajari.  Banyak orang baru yang saya kenal juga.  Adaptasi tetap berlangsung, bagaimana lebih mengenal si A, B, hingga Z.  Saya paham, semua orang punya keunikan dan karakteristiknya masing-masing. 

Akhir tahun 2014, diadakan pemilihan pengurus IIDN Jogja, kemudian muncullah beberapa nama.  Hingga akhirnya disepakati format kepengurusan adalah sebagai berikut : Irfa Hudaya sebagai Koordinator Wilayah, Indah Novita Dewi dan Novida Eny menjadi Sekretaris 1 dan 2, saya sebagai Bendahara, Vanny Mediana dan Etyastari sebagai Sie Humas, serta Astuti sebagai Penasehat.

Kata teman-teman, kombinasi ini diharapkan membawa kemajuan bagi IIDN.  Bismillah, kita coba saja!  Tetapi tetap saja, para pengurus ini memerlukan anggota IIDN yang solid dan siap bekerja sama. Pengurus bukanlah siapa-siapa, tanpa keaktifan anggota semua.

Karena komunitas menulis ya berarti saling mendukung untuk tetap menulis, saling menguatkan dan mendukung dalam menulis.  Jika yang lainnya, itu bonus semata.  Misalnya keakraban yang terjalin, ilmu-ilmu selain kepenulisan yang saling di-share, atau bahkan rezeki yang dibawa pulang pasca kopdar.  Hahaha, emak-emak mana yang tidak mikir makanan kalau sudah berkumpul? :D *ups, out of topic

Aku sangat yakin IIDN Jogja makin banyak karyanya di masa yang akan datang.  Baik karya secara personal, maupun karya secara komunitas.

Simpel, harapannya untuk IIDN Jogja ke depan.  Semoga karya-karya anggota IIDN semakin banyak yang berjejer di toko buku.  Jika selama ini baru ditemukan karya-karya mba Agustina Soebachman, Fika Faila Sufa, Vanny Mediana, Irfa Hudaya, Bayu Insani, maka semoga ke depannya makin banyak karya yang menyusul.  Juga karyaku, Aamiiin J


Ah jadi tidak sabar menunggu kopdar berikutnya, soalnya selalu ada ilmu baru yang dibagi lho J

Jumat, Juni 05, 2015

Memasak, antara refreshing dan pengabdian

Tergelitik dengan status seorang sahabat di status facebooknya beberapa waktu yang silam. Saat itu dia menulis tentang pentingnya seorang istri melayani suami, dalam hal makanan dan minuman.  Sebisa mungkin, makanan dan minuman yang disajikan adalah hasil karyanya.  Hal ini bukan membuat istri menjadi inferior, akan tetapi menjadi ajang melekatkan diri antara suami istri, juga keluarga kecil mereka.  Sahabatku juga mencontohkan, bahwa prinspinya menjadi cemoohan temannya yang lain, dan dianggap kuno.  Hari gini ka nada asisten, ada warung, kita bisa tinggal suruh, atau bahkan tinggal beli.  Status ini menarik, bahkan untuk sekedar saling berkomentar.

Juga ketika seorang teman bercerita, "aku tidak suka memasak, dan terlalu sibuk untuk sekedar memasak.  Semua yang menyajikan adalah asisten di rumah, bahkan hingga minuman yang dia minta."  Jujur saya terkaget mendengarnya, tetapi apa hak saya untuk menilainya.  Hanya saja, saya kemudian berpikir, dan bertekad, saya akan berusaha memasak dan menyajikan minuman untuk suami saya, selagi saya bisa.

Bukan, bahasan ini bukan kemudian menjadi salah satu “Mommy War” yang meributkan antara memasak atau membeli makanan, berkarir atau tetap tinggal di rumah.  Bukan itu!

Saya hanya kemudian merujuk pada diri sendiri, betapa saya ternyata menyukai kegiatan di dapur.  Dapur adalah tempat saya bereksperimen, juga suami saya. Suami? Iya, suami saya suka memasak. 
Suami yang terlahir dari keluarga pencinta makanan, membentuknya menjadi pribadi yang tidak ragu-ragu berada di dapur, memasak, mengulek, bahkan memanggang roti.  Ibunya yang jualan makanan sering memintanya untuk menemani ke pasar berbelanja.  Hal inilah yang membuat suami jadi familiar dengan dapur, alat masak, hingga bahan makanan.

Itu baru tentang suami.  Lalu bagaimana dengan saya?  Tadi saya tuliskan, bahwa memasak adalah ajang refreshing saya juga pengabdian saya.  Bagaimana bisa?

Saya, si bungsu dari 9 bersaudara ditinggal ibunda tercinta, yang meninggal dunia ketika saya kelas 1 SMP.  Kondisi inilah yang membentuk saya jadi terpaksa harus bisa memasak.  Karena saat itu, saya hanya tinggal dengan salah satu kakak, kakak ipar, serta bapak.  Bapak yang terbiasa dengan masakan Ibu yang lezat, harus mengikhlaskan diri menyantap masakan warung.  Sementara kakak ipar juga belum terlalu pandai memasak.  Jadilah saya juga belajar memasak.

Hingga kemudian saya menikah, saya tidak canggung lagi dengan memasak.  Walaupun hanya masakan simpel, tetapi berusaha saya masak sendiri.  Bersama suami, terkadang kami mencoba resep-resep baru di akhir pekan.  Tapi walau demikian, kami berdua juga tidak anti untuk jajan di luar.  Bahasa kerennya sekarang, wisata kuliner.  Terkadang kami sangat menikmati kuliner yang tersaji.  Namun tidak jarang juga kami kemudian berujar, “ah Yang, kalau kaya gini sih kita juga bisa masak di rumah.”

Kemudian ketika saya melanjutkan sekolah di Jepang, mau tidak mau saya harus memasak.  Yang pertama karena alasan ekonomis, kedua tentu saja agar semua makanan yang masuk adalah halal semata.  Ah iya, bicara refreshing, memasak di dapur apato kala itu juga jadi ajang refreshing saya ketika mulai jenuh dengan tugas kuliah dan data-data. Bahkan kemudian saya menawarkan diri menjadi tukang catering kecil-kecilan bagi sebagian teman di apato.  Mereka yang patungan membeli bahannya, dan saya memasakkan untuk mereka.

Benar, memasak itu ajang refreshing, juga seperti sekarang ini.  Menyempatkan diri untuk memasak, menjadi ajang refreshing dari rutinitas yang kadang menjemukan.  Jika sempat, saya usahakan memasak di pagi hari, untuk sarapan, sekaligus untuk bekal saya ke kantor. 

Dulu, saya masih sering jajan di warung, atau beli lauk.  Lama kelamaan, saya memilih memasak sendiri.  Toh waktu yang diperlukan sama, antara memasak yang simpel dengan antrian di warung.  Udah gitu, saya semakin yakin juga dengan makanan yang dihasilkan, dibandingkan makanan di warung, yang kita tidak tahu apa bahan-bahannya.  Jangan lupa, kalau masak sendiri, pasti lebih ekonomis dibandingkan jika membeli di warung.

Lalu apa maksudnya dengan pengabdian?  Bagi saya, memasak itu pengabdian.  Untuk suami, untuk keluarga, untuk orang-orang terkasih.  Bagi saya, dalam sebuah pernikahan, perlu saling memuja, saling menurunkan ego.  Nah, memasak adalah cara saya memuja orang yang saya masakkan.  Juga cara saya menurunkan ego, karena saya memilih menyempatkan diri memasak, dibandingkan tidur, nonton televisi, maupun main gadget.  

Apalagi ketika memasak, saya berusaha mengikuti cara ibunda yang selalu berdzikir, shalawatan sembari memasak. Konon, dzikir itulah yang membuat masakan kita menjadi semakin lezat.  Ada ramuan doa, cinta yang tersaji dalam makanan yang kita olah.

Dan, pernah saya dengar istilah “cinta seorang pria berasal dari perutnya, jangan biarkan dia kelaparan, jika tidak ingin dia mencari makanan ke luar rumah.”  Istilah yang dalam menurut saya.  Lapar ini bisa berarti harfiah maupun kiasan.  Secara harfiah, ya usahakan suami kita cukup kenyang ketika di rumah.  Sajikan makanan terbaik yang kamu bisa.  Secara kiasan, lapar ini bisa banyak hal, tapi bukan kompetensi saya membahasnya di sini.  Dan karena saya sepakat dengan istilah itu, tidak ada salahnya saya berusaha membuat suami saya “kenyang” ketika di rumah.

Hmmm, apalagi ya? Oke, izinkan saya kembali ke dapur, karena sekarang waktunya saya memasak, menyajikan hidangan terbaik yang saya bisa untuk suami saya siang nanti.



Senin, Mei 25, 2015

Kopdar IIDN : Mungkinkah Mahir Menulis dalam 4 Hari?

Mba Agustina Soebachman, alias mba Tinbe, sebagai nara sumber kali ini
(copyright : Vanny Mediana)
24 Mei 2015, tak sabar aku menunggu tanggal itu.  Betapa tidak, aku akan bertemu dan belajar dari penulis yang luar biasa, Agustina Soebachman, atau biasa kami panggil mba Tinbe.  Ah iya, kalian mungkin heran, kenapa nama sebagus itu malahan dipanggil Tinbe?  Tinbe adalah nama panggilan kesayangan dari IIDNers padanya.  Aslinya nama panggilannya mba Titin, dan di komunitas ini ada dua Titin, yaitu aku sendiri dan mba Agustina ini.  Mba Agustina ini terkenal dengan bukunya “The Power of Bejo”, maka kami panggil dia dengan nama mba Tinbe, dari asal kata Titin Bejo.  Penulis satu ini luar biasa low profile-nya, padahal bukunya sudah banyak.  Kami, IIDNers, sering menyebutnya dengan penulis satus telu likur (123) buku.

Sebagai informasi, komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Jogja setiap bulannya kan mengadakan pertemuan rutin, atau sering disebut Kopdar (kopi darat).  Ajang kopdar ini lah yang menjadi ajang saling bertukar ilmu, pengalaman antar anggota IIDN Jogja.

Kemudian untuk kali ini, Perpustakaan Kota (Perpuskot) Yogyakarta memfasilitasi IIDN Jogja untuk mengadakan kopdar di gedung tersebut.  Selain fasilitas ruangan, kami juga mendapatkan fasilitas snack dari Perpuskot.

Kali ini kopdar kita membahas buku dari mbak Agustina Soebachman, “4 Hari Mahir Menulis Artikel, Cerpen, Novel, Skripsi”.  Buku yang sangat menarik.   Bahkan sebelum datang ke acara tersebut, aku bela-belain mencari bukunya ke toko buku di Yogyakarta.  Cukup sulit untuk mencarinya, dan dengan bantuan teman, akhirnya bisa ditemukan di toko buku keempat di kawasan jalan Kaliurang. 

Suasana bedah buku "4 Hari Mahir Menulis"
(copyright : Vanny Mediana)

Simpel, itulah kesan ketika aku baca isi dalam buku ini.  Dia paparkan mulai mengapa kita harus menulis, apa tujuan dan manfaat menulis.  Selanjutnya disambung dengan paparan masing-masing sub judul, yaitu artikel, cerpen, novel hingga skripsi.

Buku 4 Hari Mahir Menulis Artikel, Cerpen, Novel, Skripsi

Buku ini sangat simpel, bahkan bagi penulis pemula sangat cukup jika mempelajari cara menulis berawal dari buku ini.  Kenapa? Karena di dalamnya dapat kita temukan trik dan tip dari mba Tinbe, maupun dari penulis ternama.  Segala trik dan tipnya aku pikir mudah sekali dipraktekkan bagi pemula. 

Jujur aku menyesal baru mengenal mba Tinbe setahun ini, dan dalam setahun ini tidak optimal mengambil ilmu dari beliau.  Jika selama ini saya tulis artikel untuk keperluan pekerjaan, hanya sekedar menulis. Ternyata tentang hal ini, mba Tinbe memaparkan pengalamannya bisa tembus media cetak lokal di Yogyakarta dengan beberapa artikelnya.  Ternyata ada trik dan tipnya di buku ini.  Bahkan buku ini mengajarkan kita agar bisa tembus media, untuk kolom-kolom artikel yang ada. Misalnya : up to date, dan tentu saja sesuai dengan visi misi media.  Nah ilmu baru yang saya peroleh ternyata.  Mba Tinbe tidak pelit ilmu, dia bahkan memberikan link alamat dan email redaksi penerbitan media cetak yang dia tahu. 

Sedangkan ketika belajar menulis cerpen saya seringkali berbusa-busa di depan, ibarat badan tuh besar kepalanya, badannya kecil.  Ternyata itu kurang tepat.  Di buku ini dipelajari komposisi menyusun cerpen yang tepat, serta beragam trik dan tipnya.  Beberapa jurus jitu dipaparkan di buku ini, kita tinggal mempraktekkannya.  Tidak cukup hanya dibaca lalu mendadak kita bisa menulis, non sense.

Sejak pertama membacanya, jujur aku penasaran, bisa kah mahir menulis dalam 4 hari? Ternyata ada peserta yang sama penasarannya denganku, dan menanyakan hal yang sama.  Jawaban mba Tinbe ternyata bahwa menulis dalam hitungan jam.  Dalam 4 hari kan ada 96 jam.  Waktu yang panjang untuk menulis, dan tidak harus 24 jam sehari kita belajar menulis, tetapi bisa diangsur sekian jam sehari.  Dan jangan lupa, konsisten menyisihkan waktu untuk menulis.  Jika kita punya waktu senggang dua jam untuk menulis, manfaatkanlah! Ooowh, baiklah, sepulang dari acara ini harus kumulai, tekadku.

Menjaga konsistensi menulis harus disiplin.  Kemampuan menulis tidak serta merta dapat dipelajari dalam sehari dua hari.  Tetapi kontinyu. Menjadi penulis jangan manja, tetap disiplin.  Nah, hal-hal inilah yang benar menamparku!  Betapa tidak?  Aku selama ini pengin jadi penulis, atau kerennya penulis wannabe, tetapi menulis pun jarang aku asah, tidak pernah update blog lagi, jarang menyisihkan waktu sehari-hari untuk menulis, gimana mau jadi penulis canggih? Plak, berasa ditabok oleh mba Tinbe dari obrolan siang itu.

Yang bikin mataku berbinar-binar di acara bedah buku itu, adalah ketika moderator Etyastari membocorkan bahwa salah satu buku mba Tinbe, “The Power of Bejo” dibeli haknya oleh salah satu perusahaan jamu yang tagline-nya Bejo.  Nominalnya bikin berbinar-binar!  Betapa tidak? Konon, nominalnya bisa untuk berangkat haji. 

Tetapi lagi-lagi mba Tinbe kembali mengingatkan bahwa semua itu memerlukan proses yang panjang, dan kita harus disiplin dan konsisten menjalaninya, jangan manja!  Dia menceritakan, bahwa dia dan anaknya hidup dari menulis.  Lihat!  Bahkan dari menulis pun kita bisa mendapatkan uang yang layak untuk hidup sehari-hari.

Hayo Tin, jangan manja! Tulis dan tulislah sebanyak yang kau mampu dan kau sanggup.  Jangan banyak alasan.  Orang sukses tidak memerlukan alasan, Tin!

Hehehe, nulis review ini memakan waktu 1 jam, tidak buruk untuk seseorang yang kembali mendisiplinkan diri untuk menulis.  Jadi aku masih punya waktu 95 jam berikutnya.  Hmm, untuk 1-2 jam bisa jadi satu artikel, maka harusnya dalam 96 jam tersebut minimal aku harus menghasilkan 48 artikel maupun cerita pendek. Mari menulis, kawan!
Seperti biasa, IIDNers tidak lupa bernarsis ria!
(copyright : Vanny Mediana)

Rabu, Mei 13, 2015

Resolusi, oh Resolusi,.. :)

Di depan meja kerja terpampang selembar kertas yang berisikan target tahun 2015 ini.  Target yang lebih populer dengan nama "Resolusi".  Ternyata panjang daftarnya :D.  Dan aku melirik ke kalender di meja kerja, wah sudah tanggal 13 Mei 2015. Oh My God, segitu banyaknya resolusi, baru sedikit sekali yang terrealisasi.

Jangan-jangan besok Desember 2015 aku akan kembali menuliskan resolusi yang sama, dan berulang lagi dari tahun ke tahun.  Memalukan!  Bisa-bisa aku dinobatkan sebagai Ratu Resolusi, sekaligus Ratu Nihil Pencapaian. :D

Ah iya, bulan lalu suamiku bahkan sudah nyeletuk, "Itu yang terpampang di tembok dekat meja itu apa?" sambil tersenyum penuh arti.  Hahaha, aku pun hanya bisa nyengir kuda.  Pertanyaan dia simpel, tapi artinya dalem banget.

So, mumpung besok baru tanggal 14 Mei 2015, yuuks realisasikan semua targetmu ya Tin!  Masih ada 7,5 bulan lagi.