Minggu, Januari 29, 2017

Bermimpi Tanpa Batas [Persiapan Jelang KIY #5]

Kelas Inspirasi (KI), berulang kali aku mendengar tentangnya dari teman-teman, hasil selancar di dunia maya melalui YouTube maupun laman lainnya.  Nice!  Menarik, satu kata yang ada di benakku saat itu.  Aku lupa kapan pertama kali mendengar tentang Kelas Inspirasi ini, mungkin tahun 2014.  Akhirnya 2016 aku mendaftar Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY), tetapi karena ada tugas kantor harus ke luar kota, maka lagi-lagi aku batal mengikutinya.  Nah, tahun 2017 ini aku mantapkan diri untuk mendaftar KIY #5, serta berharap dengan sangat, tidak ada tugas dadakan dari kantor lagi.
Hingga kemudian 10 Januari 2017 aku menerima email dari panitia, bahwa aku tercatat sebagai salah satu relawan pengajar KIY, dengan agenda Technical Meeting 22 Januari 2017 dan dilanjutkan Hari Inspirasinya Sabtu, 4 Februari 2017 serta Hari Reflesinya 5 Februari 2017.
Waaah, aku sangat exciting!  Ibarat seseorang yang menunggu berjumpa dengan kekasihnya, itulah aku saat itu. *lebay.com J Tetapi, parahnya pada hari H Technical Meeting aku malah datang terlambat, karena pagi hari lupa ada agenda ini.  Tak mengapa, aku tetap mengusahakan datang TM, karena aku belum tahu apapun tentang persiapan KI ini.
Singkat cerita, berkumpullah aku dengan beberapa orang anggota kelompok 1.  Kita kebagian di SD Negeri Jali, Kec Prambanan, Kab Sleman.  Sekolah ini berada di ujung timur DI Yogyakarta.  Dan para relawan yang hadir kala TM ini hanya 5 orang dari 14 orang yang seharusnya.  Kelompok ini ada 2 fasilitator cantik J.  Dan akhirnya kita menobatkan seorang relawan dari Demak, mas Widi, menjadi koordinator kita.  Hanya itu target capaian hari tersebut, selanjutnya kita sepakati untuk membahasnya di Whatsapp Group (WAG).
Selanjutnya, lagi-lagi aku terkagum-kagum dengan kelompok 1 ini, kalau anak muda bilang gercep alias gerak cepat, hehehe.  Gimana gak, kita bikin WAG langsung sorenya, kemudian segala perkenalan, lanjut diskusi segala hal yang harus kita harus siapkan.  Dan bersyukurnya lagi, sebagian besar dari anggota kelompok bahkan sudah pernah mengikuti Kelas Inspirasi sebelumnya, entah di Yogyakarta maupun di kota lainnya.  Kata abege sekarang, amazing
Pengalaman teman-teman luar biasa, dan mereka dengan ringan berbagi banyak hal, terutama buat aku yang baru pertama kali ini mengikuti KIY.  Mulai dari survey, membahas backdrop, rencana opening, closing, jadwal masing-masing relawan masuk kelas, dan sebagainya, semua kita bahas di WAG ini.  Dan mungkin inilah group yang gak ada matinya, soalnya chat bahkan masih berlangsung hingga pukul 02.15 dini hari, dasar anggotanya kalong semua! J
Jujur saja aku deg-degan, apa ya yang bisa kuceritakan tentang profesiku?  Bisakah aku menginspirasi siswa SD N Jali tersebut?  Gimana kalau aku malah mati gaya di depan kelas? Tapi menonton beberapa video melalui YouTube membuatku jadi lebih optimis, aku bisa melakukannya.

Sekarang masih ada 5 hari lagi jelang Hari Inspirasi, semoga semuanya lancar, diberi kesehatan, dan dapat berjumpa di SD N Jali. Tebak, aku akan berbagi cerita apa tentang profesiku di sana?  Yang jelas, pasti terkait dengan hutan, rimbawan, flora fauna.  Tunggu aku saja setelah Hari Inspirasi, aku akan menuliskannya lagi. 

Senin, Januari 23, 2017

Perlukah kita mencatat pengeluaran pribadi kita?

Mengelola keuangan rumah tangga, menjadi aktifitas yang unik, karena memerlukan trik serta disiplin tingkat tinggi.  Begitu juga bagi saya, mengelola keuangan rumah tangga, amanah dari sang suami, harus jeli.
Kemarin ada teman menanyakan di statusnya, “perlukah kita membuat rincian pengeluaran keuangan kita, dan melaporkannya kepada sang suami?” dan ketika melihat komentar-komentar di bawahnya, ternyata banyak jawaban. Dan sebenarnya dari banyak artikel keuangan yang pernah dibaca, sebagian besar menyarankan untuk mencatat keuangan, terutama pengeluaran sedetail mungkin.
Kalau saya sih, sejak menikah 12 tahun silam, saya rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan kami.  Mungkin sebagian dari kita heran, detail amat, Tin? Dan memang jujur saja, awalnya itu sulit buat saya, tetapi saya harus membiasakannya. Karena jika tidak, malah berantakan jadinya. Inilah pertimbangannya :
1.       Saya memegang beberapa keuangan, selain keuangan rumah tangga, juga ada kas keuangan kerjaan, uang dagangan bahkan kas keuangan komunitas.  Jika saya tidak disiplin mencatatnya satu per satu, maka yang ada saya akan kewalahan memilahnya. 
2.       Dulu, saya pernah harus mengganti sejumlah uang dari kas komunitas, karena keteledoran sebelumnya, tidak pernah mencatat pengeluaran.  Juga keteledoran menggunakan uang kas komunitas, untuk keperluan pribadi, hanya karena malas mengambil uang ke ATM.  Ah, nanti saya ganti.  Tapi yang terjadi, saya tidak langsung menggantinya.  Dan kelabakan ketika harus menghitung semuanya, kok ada selisih?
3.       Saya pernah berdagang, dan saya akui saat itu tidak mencatat dengan rapi antara keuangan hasil dagang serta keuangan pribadi.  Hasilnya bisa ditebak, saya lagi-lagi kebingungan, ketika uang modal dagang habis tak tentu rimbanya. Padahal saat itu terpakai untuk beli beras.
Selanjutnya, saya insyaf!  Saya perbaiki manajemen keuangan saya, di awal-awal menikah, 12 tahun silam.  Saya buka semua ke suami, berapa penghasilan saya, berapa juga kewajiban saya setiap bulannya.  Demikian juga yang dilakukan oleh suami.  Kami sepakat, bahwa keuangan yang diamanahkan ke saya harus saya catat bahkan hingga ke item yang terkecil.  Bagaimana caranya?
1.       Saya catat di HP atau buku saku, untuk pengeluaran sehari-hari.  Sekarang bahkan ada aplikasi di telepon pintar kita yang isinya tentang laporan keuangan yang simpel. 
2.       Kemudian saya rekap dalam sepekan, apa saja pengeluaran kemarin.  Saya catat hingga ke pembelian bumbu dapur, maupun bayar parkir lho! Tapi biasanya saya gabungkan dengan item sejenis.  Misal hari ini transportasi 25.000 (sebenarnya terdiri dari bensin 22.000 dan parkir 3.000).
3.       Saya mencatatnya di laptop, menggunakan excel, ada beberapa pos di dalamnya, hal ini memudahkan saya mengetahui berapa total kebutuhan makan kami bulan ini, berapa rata-rata kami harus menyisihkan uang untuk dana sosial per bulannya. 
Contoh pos yang saya gunakan untuk keuangan rumah tangga kami :
ü  Kebutuhan rumah tangga (di dalamnya ada belanja rumah tangga, sabun, beras, sayur, dll),
ü  Makan/jajan (ini rincian berapa uang yang dikeluarkan untuk makan di luar, jadi akan ketahuan, ternyata jauh lebih irit jika kita memasak, dibandingkan makan/jajan di luar),
ü  PLN & iuran sampah,
ü  laundry,
ü  pulsa,
ü  transportasi,
ü  KPR,
ü  dana sosial (rinciannya biasanya tengok bayi, tengok kerabat yang sakit, melayat, mantenan, traktir teman/kerabat, oleh-oleh, zakat maal, shadaqah, infaq),
ü  Sandang (isinya item-item ketika harus beli sandang, tidak setiap bulan ada pos ini)
ü  Kosmetik/salon (pos ini pun tidak setiap bulan ada)
ü  Buku (jatah ini sebenarnya jadi prioritas, karena kami berdua mencintai buku, tapi lagi-lagi melihat sikon, apakah keuangan memungkinkan, dan apakah kami benar-benar memerlukan buku tersebut?)
ü  Lain-lain (pos segala ada, yang belum di-cover di pos sebelumnya),
ü  Mudik/liburan (pos ini tidak selalu dalam setiap bulannya).
Ah iya, kami berdua memang belum mempunyai anak, sehingga posnya cukup simpel.  Mungkin para ibu bisa menyesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing yaaa,. J
Saya merasa terbantu dengan menyusun laporan keuangan simpel seperti ini.  Setiap akhir bulan bisa memantau, mana pos yang over budget, sehingga harus bisa memutuskan mengurangi pos lainnya. Misalkan bulan ini terlalu banyak dana sosial yang diperlukan, maka bukunya libur dulu, dll.
Jadi, masih ragu dan beralasan macam-macam untuk mencatat pengeluaran pribadi maupun rumah tangga anda? Lha, untuk aktif bersosmed dan baca grup whatsapp saja sempat, masa untuk mencatat pengeluaran sendiri masih malas? J



Minggu, Maret 13, 2016

Belanja Online, Plus dan Minusnya


Hidup di era digital ini memberikan beberapa kemudahan pada kita, terkait dengan aktifitas harian kita.  Misalnya untuk berbelanja sehari-hari, kita dimudahkan dengan beberapa online shop yang menjual segala macam barang kebutuhan kita.  Mulai dari make up, pakaian, hingga furniture.
Berbagai media sosial mereka gunakan, mulai dari website, facebook, instagram, twitter, BBM, whatsapp, dan sebagainya.  Berbagai produk dipajang melalui akun media sosial tersebut, tentunya dipajang dengan menampilkan yang terbaik dari produk tersebut.  Hal ini dilakukan, dengan harapan semua orang yang singgah ke akunnya tersebut, akan tertarik dan selanjutnya memutuskan berbelanja.  
Acap kali ketika kita pun berbelanja secara online, dengan beberapa alasan, diantaranya :
1.       Menghindari kemacetan. 
Terlebih untuk di kota besar, kita akan terasa sangat malas keluar dari rumah hanya untuk berbelanja sebuah barang.  Online shop ini memberikan kemudahan pada kita untuk hal ini.  Tiada kemacetan, kita hanya mengklik sebuah barang yang kita inginkan, melakukan pembayaran, dan tinggal menunggu barang itu sampai ke kita.
2.       Barang tersebut hanya dijual secara online. 
Saya pernah mengalami, mencari sebuah baterai telepon seluler, dicari ke service centre resmi di kota saya, eh tidak menemukan yang tersedia.  Saya harus memesannya terlebih dahulu, sementara saya bisa bisa mendapatkannya empat bulan kemudian.  Waktu yang cukup lama, mengingat telepon seluler menjadi barang kebutuhan pokok buat saya.  Akhirnya, melalui salah satu situs jual beli online, saya bisa membeli baterai sejenis, original pula. 
Di lain kesempatan, setelah mencari info, saya akhirnya membeli batik khas Madura secara online, karena batik terssebut sulit saya dapatkan di kota saya.
Nah, alasan-alasan tersebut yang membuat kita kadang kala kalap ketika berbelanja online.  Lalu bagaimana cara kita menyikapinya?
1.       Belilah barang yang kita butuhkan, bukan kita inginkan.
Kendali utama adalah di diri kita sendiri, bagaimana kita berbelanja karena kebutuhan bukan keinginan.  Membeli baju ya karena kita membutuhkannya, karena baju lama sudah kusam, atau kekecilan, bukan karena modelnya yang bagus.
2.       Selektiflah mengikuti akun media sosial penjual barang-barang online.
Jika memang sulit menjaga diri agar tidak kalap berbelanja online, maka saran saya unfollow-lah akun media sosial yang menjual barang-barang yang bikin kita galau, hingga akhirnya kalap berbelanja.  Alih-alih cuci mata seperti alasan kita sebelumnya, tapi malah menguras isi kantong kita, waaah lebih membahayakan!  Jadi selanjutnya, kita akan tetap nyaman berselancar di dunia maya, tanpa harus cemas.
3.  Bikin standar dana maksimal untuk berbelanja kebutuhan secara online selama kurun waktu tertentu.
Jika kedua cara tersebut masih belum berhasil, cara lainnya, buatlah satu rekening tersendiri untuk berbelanja kebutuhan bulanan, termasuk di dalamnya berbelanja online.  Batasi isi dari rekening tersebut, sehingga ada rem ketika kita keasikan berbelanja online.
4.       Selektiflah membeli barang secara online.
Caranya salah satunya adalah rajin berselancar di akun penjual barang online, cari harga termurah, dengan tetap mempertimbangkan kualitasnya.  Cara lain gunakan promo yang mereka tawarkan pada saat-saat tertentu.  Atau berbelanjalah secara rombongan, dengan teman atau saudara, sehingga meringankan ongkos pengiriman.
Tidak kalah pentingnya adalah memperhatikan kredibilitas dari penjual online tersebut serta kualitas barang-barang yang mereka tawarkan.  Hal ini bisa dilihat dari testimoni yang disampaikan.
So, bijaklah berbelanja online, agar kita mendapatkan manfaat secara nyata dari belanja online.
Sleman, 14 Maret 2016 

Lagu Indonesia Raya, kapan terakhir Anda menyanyikannya?

Tadi pagi teman saya mengutarakan pendapatnya melalui sebuah grup Whatsapp, “Barusan aku merinding, menyanyikan lagu Indonesia Raya, karena lama banget tidak menyanyikannya.”
Tuing, aku pun membatin, iya ya.  Kemudian kulanjutkan dengan mengetikkan pendapatku “Toss, Jeng. Aku pun kalau menyanyikan lagu Indonesia Raya juga merinding. Juga jika menyanyikan lagu Padamu Negeri. Pantesan para atlet itu kalau menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika dia menang sebuah pertandingan, pasti mereka nangis ya?”
Pelan, kugeletakkan telepon selularku, kemudian diam hidmat dan pelan-pelan kunyanyikan lagu kebangsaan Republik Indonesia, Indonesia Raya.
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku
Indonesia kebanggaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku, semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannnya
Untuk Indonesia Raya

Reff :
Indonesia raya, merdeka merdeka
Tanahku, negeriku yang kucinta
Indonesia raya, merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Dulu jaman kita sekolah, bagiku sangat biasa jika menyanyikan lagu Indonesia Raya, minimal setiap hari Senin, malah kita menyanyikannya dengan ogah-ogahan. Tapi sekarang, setelah hampir 19 tahun kita jarang menyanyikannya lagi, ternyata dampaknya sangat luar biasa ya?
19 tahun?? Iya, karena 19 tahun silam saya lulus SMA, itu artinya saya menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap upacara hari Senin di sekolah.  Setelahnya, saya hanya melaksanakan upacara beberapa kali, ketika masih tahun awal kuliah.  Tahun awal kuliah, tahun 1996-1997, masih lah beberapa kali ikut upacara dan beberapa kegiatan yang rangkaian acara salah satunya adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya.  Dan lama kelamaan kebiasaan itu berkurang, dan bahkan tidak dilakukan sama sekali. 
Hingga kemudian, tahun 2003 saya diangkat menjadi PNS.  Sejak saat itulah, saya agak sering mengikuti upacara bendera, biasanya pada hari kemerdekaan RI, hari besar nasional, hari bhakti rimbawan setiap tahunnya.  Saat itu mulai serius ketika menyanyikan lagu kebangsaan RI.
Dan tahu tidak, rasanya memang luar biasa ya, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara khidmat, apalagi meresapi setiap kata per kata.  Luar biasa, saya merasa merinding, timbul nasionalisme walau seujung kuku. 
Hingga kemudian saya sadari bahwa momen menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sangat jarang, hanya di upacara-upacara tertentu, yang mungkin dalam setahun bisa dihitung dengan jari. 
Momen menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya itu semakin terasa nasionalismenya, ketika pada tahun 2010 saya berkesempatan menyanyikannya di Gedung Kedutaan Indonesia di Tokyo, Jepang.  Saat itu, sebagai salah satu pelajar Indonesia yang berkesempatan mendatangi sebuah acara kenegaraan di Kedutaan, tidak ingin melewatkan sebuah momen pun. 
Saat itu, dada saya bergemuruh rasanya, antara bangga, haru dan segala macam perasaan yang ada.  Hingga saya berpikir, oooh begini kah rasanya menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di negeri asing?
Terbayang ketika para atlet olahraga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya setelah penganugerahan medali dalam sebuah event kompetisi.  Terlebih ketika sang saka merah putih juga dikibarkan bersamaan dengannya.  Pasti sangat luar biasa perasaan mereka yang menyanyikannya. 
Kemudian Anda masih hapal dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya kan?  Izinkan saya bertanya, kapan Anda menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ini terakhir kalinya?  Jangan-jangan entah kapan Anda menyanyikannya.
Padahal jika Anda pahami, Indonesia Raya, dua kata yang punya arti mendalam.  Cita-cita luhur dari para pendiri negara ini.  Mari kita nyanyikan kembali, resapi kata-katanya, dan wujudkan dalam setiap tindakan kita, agar Indonesia Raya benar-benar terwujud!

Sleman, 14 Maret 2016

Selasa, Januari 26, 2016

Disiplin dan Resolusi

Tersentil oleh mba Tinbe dengan programnya ODOP (One Day One Posting), maka aku bertekad bisa mengikutinya.  Hmm, terlihat mudah sih, akan tetapi ini pasti memerlukan kedisiplinan setiap harinya. 

Bicara tentang kedisiplinan, sebenarnya aku parah banget untuk hal satu ini, dan parah untuk diajak disiplin.  Jadi malu... Padahal semua kesuksesan pasti memerlukan kedisiplinan, apapun itu. Hahay, jadi ingat sesuatu yang terabaikan karena ketidakdisiplinanku. Apakah itu? Resolusi atau target tahunan. Ups!

Hahaha, bicara resolusi tahunan, jadi pengin malu. Betapa tidak, di depan saya duduk ini masih terpampang resolusi 2015 yang lalu.  Dan jangan-jangan saya akan menulis ulang resolusi itu dan hanya mengganti tahunnya menjadi tahun 2016, parah!

Betapa tidak, di kertas itu tertera beberapa hal yang menjadi target/resolusi tahun lalu. Diantaranya rajin olahraga, rajin menabung, akan lebih rajin beribadah, tidak terlambat berangkat kerja, rajin bekerja hingga memenuhi SKP (Sasaran Kinerja Pegawai) dan rajin mengisi blog secara rutin.  

Hahaha, asli ngakak aku!  Betapa tidak, semua daftar target itu bagai menguap, sedikit sekali yang telah terlaksana, Kalau bicara persentase, mungkin sekitar 25% yang telah terlaksana.  Sampai-sampai suami hanya tersenyum lebar sejak awal tahun lalu hingga akhir tahun menjelang.  "Sudah berapa persen yang terlaksana, istriku?" godanya. *malu*

Lalu bagaimana selanjutnya? Masa tiap tahun hanya menulis ulang daftar yang sama dari tahun berikutnya? Malu dong, sama komputernya.  Mungkin kalau dia bisa bicara, pasti dia akan protes, "Ah gak itu lagi, itu lagi, mana realisasinya?"

Jadi, semoga kali ini daftar resolusi tahun 2016 bisa beriringan dengan disiplin, sehingga hingga akhir tahun nanti bisa terpenuhi 100%, aaamiiin.

Baiklah, aku akan menulis resolusi 2016 yang lebih masuk akal, dan melaksanakannya secara disiplin. Hai disiplin, jangan jauh-jauh dariku ya, aku memerlukanmu lebih sering tahun ini.  

Sumber : google.com






Sabtu, Oktober 31, 2015

Cinta Indonesia dari Lereng Merapi

Merinding rasanya membantu teman-teman #ManggalaAgni, polhut, seluruh staf Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) serta masyarakat sekitar kawasan memadamkan api yang membakar kawasan TNGM.  Berulang kali kawasan hutan di Srumbung, kab Magelang terbakar.  Dan semuanya bahu membahu memadamkannya, tanpa lelah.  Bahkan para staf, polhut TNGM harus meninggalkan keluarganya untuk bergantian berjaga di pos, mengantisipasi kebakaran hutan yang berulang.

Nyaris dua bulan rekan-rekan berjaga dan berulangkali memadamkan api yang melalap pepohonan di kawasan TNGM, dan luasannya bahkan mencapai 200 hektar.  Diantaranya bahkan ada area restorasi yang baru kita rintis, untuk menghijaukan kembali Merapi.  Tetapi semuanya dilalap si Jago Merah.

Saya selama ini hanya mendengar perjuangan mereka, tanpa pernah bertindak nyata, hanya bisa mendoakan dari jauh agar mereka senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan.  Hingga suatu saat, 25 September 2015, saya bisa bergabung dengan mereka di Dapur Umum.  Peran yang sangat kecil rasanya dibandingkan jibsayanya para #ManggalaAgni nan gagah berani. Tapi demi Tuhan, inilah hal yang membukakan matsaya.  Betapa perjuangan memadamkan api, terlebih lagi dalam hal kebakaran hutan, akan sangat luar biasa melelahkan.  Bayangkan saja, dengan peralatan seadanya mereka harus memadamkan api di kawasan hutan yang seringkali topografinya tidak rata.  Dan lagi itu harus ditempuh dengan jalan kaki, bukan dengan kendaraan bermotor, apalagi mobil pemadam kebakaran.  Inilah salah satu yang menyebabkan pemadaman kebakaran hutan terkesan lamban dan tidak efektif.

Ketika beristirahat dan menikmati makan siang dari Dapur Umum, kutanya salah seorang masyarakat mengapa dia mau repot-repot memadamkan api, toh itu bukan hutan dia? “Hutan ini memang bukan punya saya mbak, tetapi jika saya diam, saya malu sama Tuhan, selama ini dikasih udara sehat, dikasih tanah bagus, kenapa saya tidak tahu berterima kasih? Saya membantu memadamkan api minimal untuk bersyukur pada Gusti Allah mbak,” ujarnya dalam bahasa jawa, seraya menggigit tempe hasil saya dan tim Dapur Umum memasak tadi.

“Inggih mbak, saya cinta Merapi, saya cinta Indonesia, karena itu saya pengin hutan ini kembali ijo royo-royo, tak perlu ada yang membayar, bahkan negara.  Karena sekarang lah saya membayar apa yang selama ini saya peroleh dari Merapi, dari tanah ini, udara dan air bersih,” jelasnya lagi ketika kutanya mengapa beliau mau bersusah payah memadamkan api, tanpa dapat imbalan apapun. “Saya orang bodo mbak, bisanya saya nggih namung ngaten, tidak bisa berbuat banyak, tapi mbak saya #CintaIndonesia,” mendadak mata saya berkaca.  Duh Gusti, Kau tampar hamba-Mu ini melalui perkataan si bapak ini, betapa apa yang kulsayakan untuk Indonesia jauh dari cukup.

Duh Gusti, jika Engkau berikan pada saya kesempatan, ku akan berjuang demi cinta saya pada Indonesia.  Tiada muluk-muluk, berbuat yang terbaik dalam bertugas demi konservasi alam, rasanya bukan sesuatu yang sulit bagi warga negara yang satu ini.  Baiklah, terima kasih Bapak, telah ‘menampar’ saya kala itu.

Sleman, 31 Oktober 2015


*Tulisan ini diikutkan dalam lomba kuis #CintaIndonesia yang diselenggarakan oleh #IIDNJogja

Sabtu, Juni 06, 2015

[IIDN Jogja] : Harapan dan Impian

Siapa saya sih, yang kemudian malah didaulat jadi pengurus komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Jogja?  Konon katanya, karena tampang saya seperti tukang tagih, maka tepat jika saya menjadi bendahara IIDN Jogja, merangkap tukang tagih iuran bulanan. Hahaha, sedihnya dianggap sebagai tukang tagih.  :D

Akhir tahun 2014, saat itu tepat satu tahun saya bergabung dengan IIDN Jogja, banyak hal-hal baru yang saya pelajari.  Banyak orang baru yang saya kenal juga.  Adaptasi tetap berlangsung, bagaimana lebih mengenal si A, B, hingga Z.  Saya paham, semua orang punya keunikan dan karakteristiknya masing-masing. 

Akhir tahun 2014, diadakan pemilihan pengurus IIDN Jogja, kemudian muncullah beberapa nama.  Hingga akhirnya disepakati format kepengurusan adalah sebagai berikut : Irfa Hudaya sebagai Koordinator Wilayah, Indah Novita Dewi dan Novida Eny menjadi Sekretaris 1 dan 2, saya sebagai Bendahara, Vanny Mediana dan Etyastari sebagai Sie Humas, serta Astuti sebagai Penasehat.

Kata teman-teman, kombinasi ini diharapkan membawa kemajuan bagi IIDN.  Bismillah, kita coba saja!  Tetapi tetap saja, para pengurus ini memerlukan anggota IIDN yang solid dan siap bekerja sama. Pengurus bukanlah siapa-siapa, tanpa keaktifan anggota semua.

Karena komunitas menulis ya berarti saling mendukung untuk tetap menulis, saling menguatkan dan mendukung dalam menulis.  Jika yang lainnya, itu bonus semata.  Misalnya keakraban yang terjalin, ilmu-ilmu selain kepenulisan yang saling di-share, atau bahkan rezeki yang dibawa pulang pasca kopdar.  Hahaha, emak-emak mana yang tidak mikir makanan kalau sudah berkumpul? :D *ups, out of topic

Aku sangat yakin IIDN Jogja makin banyak karyanya di masa yang akan datang.  Baik karya secara personal, maupun karya secara komunitas.

Simpel, harapannya untuk IIDN Jogja ke depan.  Semoga karya-karya anggota IIDN semakin banyak yang berjejer di toko buku.  Jika selama ini baru ditemukan karya-karya mba Agustina Soebachman, Fika Faila Sufa, Vanny Mediana, Irfa Hudaya, Bayu Insani, maka semoga ke depannya makin banyak karya yang menyusul.  Juga karyaku, Aamiiin J


Ah jadi tidak sabar menunggu kopdar berikutnya, soalnya selalu ada ilmu baru yang dibagi lho J