Kamis, Januari 22, 2009

Sekelumit cerita dari kampus karangwangkal (oleh-oleh reuni akbar Fabio Unsoed 2008 –Fabio Balik Kampus)


Sejak kira-kira bulan Oktober 2008 yang lalu aku mendapatkan berita dari mailing list Unsoed, bahwa pada tanggal 27-29 Desember 2008 akan dilaksanakan reuni akbar semua angkatan,…
Mendengar berita tersebut aja, aku udah seneng, palagi mbayangkan akan dateng ke acara tersebut bersama teman-teman perjuangan satu angkatan,... Rasanya sudah nggak sabar ingin ke kampus dan melepas rindu pada kampus juga teman-teman yang telah menjadi keluarga keduaku,...

26 Desember 2008
Jam 16.00

Aku mendaftar ulang ke kampus, ditemani Fajar ”jay”, ternyata belum banyak yang mendaftar ulang, kalau tidak boleh dikatakan sepi. Yaah kira-kira baru 100 orang yang mendaftar ulang, padahal kalau dihitung dari total alumni (yang katanya sudah meluluskan 3000an, maka angka tersebut masih teramat kecil, baru 3%-nya). Disana kami jumpa pak Setijanto (ini dia dosen pembimbing skripsiku dulu yang sekaligus jadi inspirator serta motivatorku), pak Uki, pak Edi Yuwono, bu Ani Ekologi, bu Triana mantan Dekan, bu Purnowoti (Dekan yang sekarang) dsb.

Sempat ragu juga, daftar nggak yaah, namun akhirnya kami mendaftar juga, sekalian mendaftarkan Mimin. Kami berharap besok akan lebih banyak yang datang, terutama dari angkatan 1996. Jujur, aku kangen banget ama teman-teman satu angkatan, karena ternyata aku nggak jumpa dengan beberapa dari mereka udah kurang lebih 7 tahun, bukan waktu yang singkat kan? Banyak dari teman-temanku yang nggak kuketahui kabarnya, so aku kangen banget ama mereka euy,...
Sayangnya, suamiku tercinta, mas Burhanuddin Subekti, yang kebetulan angkatan 1993 juga nggak bisa hadir, karena dia masih di Padang.

27 Desember 2008
Jam 10.00

Aku baru bisa ke kampus jam 10.00, padahal acara jalan santai dimulai sejak jam 7.30 tadi, maklum aku dari Ajibarang. Sebelumnya aku singgah ke hotel Darajati di Jalan HR Bunyamin untuk jumpa Mila dan suami yang kebetulan datang ke purwokerto untuk kondhangan, katanya dia nggak bisa dateng ke reuni (Sekilas info : Mila baru dateng liburan dari Australia, ambil Master-nya disana, so libur kali ini dia manfaatkan untuk berkumpul denggan keluarga, dateng ke reuni pun hanya sebentar).

Ketika sampai di kampus, ternyata ada parade band antar SMU di halaman samping (yang dulu ada sekre Senat-nya), dan di sekitar kampus sedang dilaksanakan penanaman dengan koordinatornya pak Teguh (nggak tau angkatan berapa, tapi yang pasti beliau sekantor ama Mila di Litbang Departemen Kehutanan, di Yogyakarta). Aku dan Mila sempat bengong, tengak-tengok kok nggak ada yang dikenal yaah?

Lalu tak lama kemudian kami jumpa dengan Latri, teman yang satu ini ternyata udah jadi bu Guru di perguruan Al Irsyad Purwokerto, ngajar SD-nya. Kita ngobrol ngalor ngidul, Latri cerewet lho, banyak menanyakan kabar teman-teman 96 yang lainnya, n aku jelaskan kabar teman-teman satu per satu, itupun yang aku tahu.

Jam 11.00an,...
Aku belum jumpa lagi dengan teman-teman angkatan 1996. aku berharap minimal teman-teman yang domisili di di Purwokerto dan sekitarnya bisa hadir, agar kita bisa melepas rindu satu sama lain (cie, bahasanya,...)
Aku mencoba mengontak beberapa teman yang kuketahui domisili di Purwokerto, Purwono (dia domisili di Purwokerto), Konang (dia domsili di Baturaden), Siti Musrifah (dia domisili di Cilacap), tapi mereka nggak bisa hadir karena sesuatu dan lain hal. Aku tahu beberapa teman lainnya juga ada yang domisili di Purwokerto dan sekitarnya, tapi aku nggak tahu no telp yang bisa dihubungi, seperti Rebeka, Lejar, Agus Pribadi.
Aku jadi nggak semangat euy,...sempat berpikir, waduh aku jauh-jauh kok nggak ketemu siapapun, gimana ini,.. padahal waktu ketemu di Jakarta bulan Oktober yang lalu, katanya teman-teman di Jakarta akan berangkat rombongan pakai bus, haha,...ternyata tidak seindah angan-angan kita yaah,...

Lalu aku dan Mila sempat berkeliling kampus hingga ke sekre UPI (secara kan kami berdua juga dulu aktif di UPI, hehe,..), lalu balik lagi ke taman tengah kampus, dan disanalah kami jumpa dengan Saefudin Aziz (pak dosen Fabio kita nih), mas Isroi_93 (inget beliau kan, beliau kan asisten praktikum kita dulu, sekarang jadi peneliti di Bogor, aku lupa instansinya) dan istrinya mba Hepi_95, mas Nursid_94 (beliau ketua Senat Mahasiswa, jaman tahun 97’an, sekarang jadi peneliti Departemen Kelautan dan Perikanan di Jakarta), mas Wino_94 (yang ini senang basket, dan kalau nggak salah dulu dia aktif di Bio Explorer), sekarang bekerja di JICA_bogor). Hanya itu yang aku kenal dari angkatan 1993 s.d 1996, dikit banget yaah,...
Untungnya, kekecewaan itu terobati dengan adanya sroto sokaraja yang disajikan di gubug-gubug di lorong-lorong depan perpustakaan, laboratorium, juga ada makanan khas Banyumas lainnya, gethuk sokaraja, sate kambing banaran, mendoan hangat (baru nggoreng lho,...)

Lalu setelah penanaman, acara selanjutnya adalah work field, pura-puranya kita praktikum lagi, mengenang jaman-jaman kuliah dulu, ke laboratorium, tapi aku nggak ikut. Aku justru duduk di taman tengah sendirian, menikmati mendoan hangat, yummy banget yaah,...

Waktu itu juga aku jumpa dan berkenalan dengan beberapa kakak kelas yang usianya jauh di atasku, ada mas Bayu Aji_90 (aku kenal beliau gara-garanya salah kirim email, aku pikir beliau itu Bayu Aji_97), lalu ada mas Ikhsan_91 (katanya sih aktifis Rohis dulunya), lalu kita ngobrol juga dengan mas Erwin dosen kita yang keriwil n kacamataan itu lho,..

Acara berlangsung hingga jam 15.00, kemudian istirahat dan berkumpul lagi setelah maghrib, dengan acara Malam Keakraban serta Pentas Hiburan.

Ba’da maghrib (jam 19.00) aku ke kampus sendirian, kemudian aku berjumpa dengan mas Cahyo Saptono_94 yang keriwil itu lho, yang orang Purworejo (beliau sekarang jadi Kepala Desa di Purworejo sana, sekaligus buka usaha printing), juga jumpa dengan mas Dzawinnuha_92 dengan istrinya, Husna_95 (beliau juga jadi Kepala Desa di Rembang sana, juga buka usaha wirausaha konveksi).

Lalu setelah mereka asik dengan teman teman lamanya, aku kembali bengong, akhirnya aku memutuskan masuk ke ruangan 4 (masih inget kan ruangan yang besar di sayap kiri kampus kita???), ternyata ruangan 3 dan 4 sudah disetting sedemikian rupa menjadi arena malam hiburan yang fantastis,...

Aku duduk di dalam dengan Latri, kemudian juga kadang kala ngobrol dengan mas Bayu Aji_90. aku nunggu-nunggu Jay dengan Tekun, katanya mereka mau dateng, tapi kok belum kelihatan juga yaah??

Jam 21.00 baru Jay dan Tekun dateng dengan rombongan BE-nya (aku lupa beberapa, yang aku inget ada mas Dhani_Kuncung_93, mas Wino_94, yang lainnya lupa nama tapi hapal wajah). Lihat mas Dhani_kuncung jadi inget bahwa aku pernah suka ama suara dia yang tipe penyiar radio, wakakak, jadi ketahuan nih,... Secara kan, kalau dia lagi ngomong jaman Opspek maupun acara lainnya, kaya’nya kok menghipnotis, huaaa segitunya,...

Lalu aku nggak bisa ngikutin acara hingga selesai, karena aku numpang nginep di rumah kawan, ya otomatis sungkan kalo pulang malem-malem, so aku pulang jam 21.30.

yang pasti malam itu sebenere acarane rame lho, bu dekan aja nari, dengan ibu-ibu dharma wanita lainnya,...
trus ada ketoprak dengan pemainnya pak slamet "killer" kimia, dan sebagainya,...

esok siangnya, aku balik ke yogya janjian ama tri widayat (dia ikut acara reuni hari ahad-nya, n katanya nobody he known there,..hiks,..)

demikian sekilas info dari acara reuni-an,...
moga2 di lustrum 5thn yang akan datang, kita bisa datang semua yaah,...
nabung dari sekarang yaah,...

Senin, Januari 12, 2009

Soulmate, anugerah atau usaha????

Pagi ini aku membaca UMMI edisi Januari 2009, ulasannya tentang Soulmate, mimpi atau nyata. Sangat menarik bahasan kali ini, entah apa karena minggu-minggu ini kadar romantisme-ku bertambah, atau karena emang tim redaksinya pintar pilih kata-kata.

Dari bahasan tersebut, ternyata dapat disimpulkan secara definisi bahwa soulmate itu adalah orang yang punya kesamaan cara berpikir dan kesamaan perasaan sekaligus orang yang bisa melengkapi kekurangan diri kita, intinya to make me feel complete, atau bahasa gaulnya “bisa bikin klik”. Bahasa soulmate ternyata tidak hanya digunakan orang modern, karena orang jawa telah terlebih dulu menggunakan istilah “garwa = sigaring nyawa = belahan jiwa” kepada pasangannya.

Meski istilah soulmate ini seringkali diasosiasikan ke arah perjodohan, namun ternyata soulmate ini tidak melulu untuk suami istri. Istilah soulmate dapat diterapkan kepada siapapun kita merasa nyaman, rileks mengungkapkan diri kita tanpa perlu jaim, dan kita tak perlu memakai topeng didepannya. Jadi soulmate ini bisa jadi kakak kita, adik kita, sahabat kita, orangtua kita, bahkan anak kita sendiri.

Lalu bagaimana dengan Islam memandang masalah soulmate ini? Ternyata Islam tidak menentang 100% maupun merekomendasikan 100%. Tentang menentukan apakah kita soulmate dengan calon pasangan kita, itu dapat dipertimbangkan, namun bukanlah segala-galanya. Karena ternyata soulmate ini dapat diusahakan, seperti halnya Rasulullah saw awalnya tidak mencintai Khadijah selama beliau bekerjasama, namun rasa cinta dan klik itu semakin mendalam di dalam kerangka pernikahan yang agung, hingga Khadijah meninggal dunia, Rasulullah saw masih sangat mencintai Khadijah.

Lalu tentang pasangan suami istri, ada yang ta’aruf, menikah, dan live happily ever after, namun adapula yang berpuluh tahun menikah namun tidurnya punggung-punggungan, komunikasi kerap nggak nyambung, untuk yang ini banyak orang berkilah, wong gimana lagi, bukan soulmateku sih,… memang soulmate ini adalah anugerah dariNya, tapi kalau tidak soulmate, apa lantas kita menyerah begitu saja???

Jika demikian keadaannya, maka hal pertama yang harus ditempuh adalah usaha maksimal untuk memperbaikinya, karena bisa jadi kita belum mengenal pasangan kita luar dalam, karena kan kata orang, tak kenal maka tak sayang,...

Kita beranggapan bahwa untuk menjadi soulmate itu tidak pernah berantem, itu salah karena pasangan soulmate pun sering berantem, namun berantem yang seperti apa, selama dilakukan secara sehat, itu sah-sah saja, ada yang dikarenakan memang seperti itulah pola interaksi mereka (karena keduanya cerewet) dan yang lebih penting biasanya mereka akan lebih romantis setelah berantem lho,...hehe,... dan juga bukan berarti pasangan yang diam aja, tidak pernah berantem itu juga soulmate, belum tentu..... bisa jadi karena salah satu takut pada pasangannya. Sebenarnya yang penting untuk menandakan apakah kita soulmate dengan pasangan kita, adalah kontak batin. Soulmate biasanya saling tahu maksud dan isi hati pasangannya tanpa saling bicara.

Lalu bagaimana jika kita merasa bahwa kita belum terlalu klik dengan pasangan kita? Apa lantas kita memutuskan untuk berpisah? Mungkin sebaiknya yang kita lakukan adalah mengenal pasangan kita lebih dalam lagi, tidak hanya kulitnya saja, dan kita berusaha menjalin kontak batin lebih intens dengannya, agar impian kita untuk mendapatkan pernikahan yang sakinah (ketenangan), mawadah (cinta kasih) dan rahmah (kasih sayang) dapat benar-benar kita wujudkan bersama. Amiin ya rabbal ’alamiin,....

Setelah baca UMMI tersebut, aku jadi mikir “sudah soulmatekah aku dan garwaku?” “sudah klik-kah kami berdua?” biarlah kami yang menjawab sendiri dan berdoa moga2 anugerah ini akan semakin langgeng di antara kami berdua dengan usaha yang tiada henti hingga akhir hayat, tentunya...

Minggu, Januari 04, 2009

Menjelang Our 4th Anniversary


4 tahun yang lalu, tepat pada tanggal 26 Desember 2004, di Ajibarang, kab Banyumas, pada pukul 09.00 aku dan suamiku, Burhanuddin Subekti, telah mengucapkan janji dengan nama Allah swt untuk menjadi suami istri sehidup semati, dalam suka maupun duka, dan senantiasa berada di jalan yang diridhoi-Nya,….

Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar, teramat banyak suka, duka, canda, emosi, terkadang juga tangis, yang terjadi sepanjang empat tahun kebersamaan kita. sebetulnya bagi suamiku yang ada hanyalah suka, suka, dan suka, namun kebahagiaan itu terkadang rusak dengan adanya tangisanku, isak manjaku, maupun rengekan childish’ku,….

Betapa tidak, suamiku adalah orang yang teramat sangat sabar,…..(thanks honey,...) Kangmasku dengan sabarnya meng-cover segala keinginanku, meng-handle segala kesulitanku, memelukku di kala aku gundah, menghapus air mataku di kala aku menangis,....

Aku aja yang kadang nggak tahu berterima kasih, kadang kala aku masih menuntut ini itu di tengah penatnya,... (jadi malu, kadang malam-malam aku minta diantarin beli martabak, padahal dia baru pulang larut malam, hehe,...). Saking sabarnya, dia pasti mengalah untukku, berusaha mengabulkan segala keinginanku, dan memaklumi sikap kekanak-kanakanku,....
Cintaku, makasih untuk semuanya yaah,....

Aku kadang merasa nggak setara dengannya, karena dengan segudang kebaikannya, aku merasa teramat kecil di matanya, aku merasa nggak setara, aku yang kekanak-kanakan kaya’ gini mendapatkan suami yang begitu sholeh, yang begitu baik, begitu sabar, dan begitu mencintaiku,.....

Dan malunya aku, aku kadang sering melarangnya pergi ketika kangmasku ingin main ke rumah kawan-kawannya atau sekedar bermain sepak bola, sementara dia dengan rela dan tanpa panjang kata akan mengijinkanku jika ingin han-out dengan sahabatku atau sekedar memanjakan diri ke salon, apa nggak kebangetan aku ini????

Tahun keempat kebersamaan kami ini, aku mendapatkan banyak pelajaran dari sekelilingku,....
Bulan Juli, baru kali aku merasakan ketakutan yang teramat sangat nyata, aku sangat takut kehilangan dia, karena pada bulan ini suamiku menjalani operasi hernia (sebenarnya ini operasi yang kecil, tapi bagaimanapun aku cukup cemas. Saat itu aku sempat berpikir macam-macam, tapi syukurnya semuanya telah berlalu, dan suamiku telah pulih kembali). Mungkin baru sekaranglah aku bisa memberikan sesuatu pada suamiku, karena selama kangmasku menjalani perawatan, otomatis akulah yang merawatnya (aku berusaha sekuat tenaga untuk ikhlas dan tidak mengeluh), akulah yang menyuapinya, membantunya ke kamar mandi, menjadi topangan bagi suamiku, menguruskan semua keperluan kangmasku, hmmm aku senang banget punya kesempatan seperti ini,... aku senang banget punya kesempatan untuk berbakti pada suamiku tercinta,....

Bulan Nopember (menjelang kepindahanku ke Yogya) aku diingatkan kembali oleh-Nya betapa beruntungnya aku mempunyai suami sebaik dia dan sehat wal afiat. Karena suami sahabatku meninggal dunia karena sakit jantung, padahal dia masih muda (baru berumur kira-kira 35tahun, seumur suamiku) dan mereka mempunyai seorang anak balita yang membutuhkan kasih sayang secara lengkap dari kedua orang tuanya. Padahal dua minggu sebelum suaminya meninggal, dia sempat bercurhat tentang kekurangan suaminya, dia bercurhat ini itu, lalu dua minggu kemudian suaminya diambil oleh-Nya. Singkat cerita, sahabatku ini berpesan padaku untuk menyayangi dan terima pasanganmu apa adanya, karena kamu akan menyesal ketika pasanganmu tiada.
Akhirnya aku bertekad akan menyayangi suamiku dan menerima dia apa adanya, menerima dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena nggak terbayang bagaimana jika aku berpisah dari soul mate-ku tercinta,... ya Tuhan, jangan sampai hal ini terjadi,...

Dua hari yang lalu, goncangan menerpaku dengan kuat, menerpa pondasi cinta kita, mempertanyakan ketulusan cintaku, dan sempat mengharu birukan perasaanku seharian,.....
Pagi itu, kesekian kalinya aku menangis karena ternyata ikhtiar kita untuk segera mendapatkan momongan belum dikabulkannya,... namun banyak hal yang mengingatkanku bahwa ternyata aku selama ini kufur nikmat, aku kurang mensyukuri keberadaan suamiku, aku malah menuntut hal lain yang belum menjadi hakku.
Mungkin inilah yang terbaik menurut Tuhan untuk kami berdua, dan yakinlah segalanya akan lebih indah jika tepat pada waktunya.....
Di ujung hari, aku menata kembali hati dan perasaanku, meluruskan kembali niatku dan bertekad akan tetap mendampingi suamiku hingga ajal menjelang, hingga uban memenuhi kepala, karena aku kembali disadarkan bahwa ternyata segalanya bisa dicari, materi bisa diusahakan, kebahagiaan bisa dicari, kesuksesan bisa diupayakan, namun suami sebaik dia, kemana lagi ’kan dicari,...????

Lalu dua hari yang akan datang, 26 Desember 2008, apa yang akan kubingkiskan kepada suamiku tercinta? Tak ada yang lebih indah selain senyum terindah yang kuberikan, pelukan hangat dan kecupan mesra padanya, seraya mengucapkan I love you, kangmasku,... thanks for your love, your attention, your hugs, your kisses,...

Yaah mungkin anniversary kali ini kami tidak merayakannya tepat waktu, karena suamiku hingga saat ini masih berada di Padang, yaah mungkin kami akan merayakannya di waktu yang lain,...

Happy 4th wedding anniversary honey,...
Tersadar dalam sepiku setelah jauh melangkah,...
Cahaya kasihmu menuntunku kembali dalam dekap tanganmu,...
Terima kasih cinta untuk segalanya,...
Kauberikan lagi kesempatan itu,..
Takkan terulang lagi semua kesalahanku yang pernah menyakitimu,...

(written on dec 23,2008)